cerita sex Ibu kosku menggoda kontol ku

5735 views

cerita sex Ibu kosku menggoda kontol ku

Tante girang adalah cerita yang tidak pernah habis, apalagi bibi bibi hidup hari ini karena tidak ada lagi rahasia ketika ia adalah seorang bibi nakal yang doyan sebelumnya. Waktu cougar cougar ini adalah cerita tentang standar biasa, yang tidak glamor. Dia menaiki ibu saya sendiri. Ini adalah kisah ibu saya gembira naik bibi. Ruangan yang ia meminta dan mendapatkan sebuah gudang garasi mobil yang berdekatan. Selera anak muda ia mengatur interior ruangan itu sebaik perutnya. Setengah selesai akhirnya perencanaan tata ruang kamar yang cukup besar itu, sekali lagi Yoyo sukarela bahwa saya akan tinggal bersamanya. Saat itu Ibu Reni, hanya tersenyum saja. seperti yang lama-dulupun saya menolak. Prestise Dikitlah, memilih untuk tinggal di rumah karena Ibu Reni berarti semuanya gratis, itu berarti hutang budi, dan itu berarti lagi: ketergantungan. Biarkan saya seperti pusing memikirkan uang kos bulanan, makan sehari-hari atau baju nyuci sendiri, setidaknya dikamar kostku aku seperti orang yang bebas. Lha wong saya membayar!. Tapi hari itu, entah karena bujukan mereka, atau karena terlalu sayang kepada mereka dan sebaliknya sayang mereka kepada saya selama bertahun-tahun. Akhirnya saya terima juga tawaran itu, dengan perjanjian bahwa aku tidak ingin benar-benar bebas. Saya ingin membayar, meskipun uang yang dibayar kostku seperti ngencingin kolam renang untuk Bu Reni memang kaya. Setelah selama ini saya menganggap ini mengunjungi Ibu Reni kostku rumah kedua, sering sebelum aku nginap dan nongkrong hampir setiap hari di sini. Ada satu hal yang benar-benar datang dengan cara saya terlalu jauh menolak tawaran Yoyo atau Bu Reni untuk tinggal di rumah. Entah bagaimana aku adalah orang-orang muda seperti ini, seperti ada sesuatu yang dada perasaan aneh ketika melihat satu sama lain, berbicara, bercanda, diskusi dan berdekatan dengan bu Reni. Wanita yang seharusnya, atau bahkan bibi ibuku. Reni ibu saya bukan hanya sosok seorang wanita cantik, atau setidaknya orang yang melihatnya akan dipertimbangkan bahwa selama gadisnya bu Reni adalah seorang wanita yang luar biasa. Tidak hanya itu sampai ibu tua Susan masih memiliki bentuk tubuh yang meliuk-liuk. Senyum, dada, pinggang, sampai kepinggulnya seperti saya insomnia dan bantuan baru jika saya melakukan masturbasi membayangkan hubungan dengannya. Jika saya masturbasi ngecret tidak cukup jika hanya sekali. Gejala-gejala ini, jika wajar saya terobsesi sosok perempuan yang tidak hanya indah, tapi berintelegensi bagus, penuh kasih dan matang. Bagi saya seindah setiap wanita jika tidak memiliki tiga unsur, hambar dalam rasa dan terlihat. Seperti buku kartun yang bodoh dan tidak lucu sama seperti. Sayangnya ibu Reni memiliki semua itu, dan lebih sayangnya lagi aku. Saya sering tidak sadar uleni iri dan cemburu ketika melihat ibu Reni percakapan intim atau melayani pak Hendra, suaminya. Jadi telaten dan indah. Gila!. Selama saya tinggal di rumah Ibu Reni, awalnya semua biasa. Bu Reni perhatian dan kasih sayang saya merasa tidak ada bedanya dengan saya dan Yoyo. Saya pikir semua naluri keibuan ini saja. Tapi itu berjalan hanya sampai kurang lebih 4. Pada suatu malam dari jendela kamarku aku melihat beberapa kali keluar dari rumah Reni ibu cemas menunggu Pak Hendra yang belum pulang sampai jam 22:00. Secara singkat ia menambahkan saat lagi, duduk di kursi, ingin jalan dengan wajah cemas, membalik-balik majalah dan kemudian masuk lagi. Lagi. Ibu Susan melihat akhir-akhir ini begitu murung. Ada masalah yang ia sembunyikan.

1 (308)Senyumnya sering pahit dan dipaksa. Aku pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil. Dewasa Story Book yang telah membuat penis ngaceng kugeletakan meja. Tapi begitu saya kembali ternyata bu Reni lama duduk di kursi memegang buku di kamarku. Aku hanya meringis ketika bu Reni menggoda dewasa membaca buku cerita yang pas dicerita ah-uh-oh tekuk kertas saya. Tak lama setelah kami kehabisan hal untuk berbicara, Ibu Reni kembali menghadapi tutul lagi. Dia berdiri, berjalan di sekitar sini dengan perlahan tanpa suara cemara melihat apa yang berantakan. Seprai, buku, surat kabar, majalah, pakaian kotor dan asbak rokok.Ya menyarankan ruang bujanganlah. Aku pindah duduk lama di kursi dan kemudian patung pemberitahuan. Seperti tanpa berkedip. Semua hal ini adalah keindahan seorang wanita, seorang ibu. Setelah selesai, bu singkat Reni hanya berdiri, melihat jam di dinding dan menatapku dengan mata kosong. Aku mencoba untuk tersenyum sehangat mungkin. Bu Reni duduk di sebelah saya. Yang tetap wajah murung akhirnya membuatku berani, mengomentari sikap baru-baru ini dan bertanya mengapa?. Bu Reni tersenyum hambar, menggeleng, diam-diam, kepala ke bawah, mengambil napas dalam-dalam dan melepasnya dengan denda. Diam. Sebagai ingin titik saja, bu Reni menceritakan masalah dengan suaminya. Desa seperti provokator dan perusuh menyerbu saja, otak saya terkoyak, terbuka.Hubungan bu Reni dengan suaminya selama ini ternyata semuanya penuh kepura-puraan. Sayang mereka jelas tidak memiliki hati nurani, seperti ruang setengah kosong, dan setengah lainnya hanya kewajiban eksekusi paksaan. Bu Reni dalamnya. Suaminya yang tahu tapi seperti sengaja membiarkannya berpikir, menghadapi dan menyelesaikan sendiri. Menerima keadaan. Entah karena kesepian, harus hati tumpahan marah dan rasa terbuang. Bu Reni mengatakan paket yang Hendra telah lama memiliki simpanan disebuah perumahan pinggiran mewah. Ini dia tidak pernah memberitahu siapa pun untuk anaknya sendiri Ms. Clara di Jakarta. Sama dengan kebanyakan istri-istri pejabat bahwa meskipun wanita itu tahu suaminya punya simpanan, bu Reni hanya bisa menahan hati. Dikatakan, itu sebenarnya banyak istri pejabat bahkan menemukan seorang wanita khusus untuk tabungan sendiri, untuk keselamatan nama baik "dan posisi. Biarkan pria asal hit dan makan hanya wanita saja. Setelah semua, Istri tahu atau tidak, terima atau tidak, suami dengan judul, uang dan kedewasaan bisa melakukan apa-apa wanita yang ingin. Semua yang seperti permaisuri permaisuri kepada suaminya menemukan diri mereka. "Dia ingin memiliki anak laki-laki Win (Win palsu nama gua, asli akan meminta penyihir!) "Begitu Ny Reni mengatakan malam itu. Matanya mulai berkaca-kaca. Bu pertama Reni memang suka menceritakan bagaimana dia ingin memiliki seorang putra yang banyak. Dia suka menyesali diri mengapa Allah hanya memberikan satu anak. "Apakah alasan yang masuk akal Win" Katanya lagi. Kedua tangannya memegang tangan kanan saya dan memohon mata lurus ke arahku. Seolah-olah meminta dukungan bahwa Mr Hendra perilaku yang salah. Saya bingung. Ingin mengatakan apa, seribu kata aduk-mortir sampai otak saya hanya bisa menggelengkan kepala mereka. Di luar berpikir, menangis bu Reni tertahan bahkan meledak. Dia menjatuhkan wajahnya kepundak kiri saya. Aku bingung, tapi naluri lelakiku katanya disalahgunakan dan membutuhkan perlindungan, hingga akhirnya tanganku hanya menerimanya. Bu Reni bukannya dikubur kedadaku wajahnya. Aku membelai punggungnya dan dengan kugesek-pipi menggesek rambutnya begitu tenang. Aku mencium parfum dari tubuh dan rambut. Sesaat tampaknya, sampai akhirnya Ibu Reni wajah yang menarik dan menatapku dengan senyum yang marah. Aku tersenyum. Ada rasa malu, tidak ada rasa bersalah, tidak ada pertanyaan di mata Ibu Reni haus, dan ada dada menyesakan. Entah sayang atau hanya untuk menetralisir hatinya, aku menyeka air mata dengan jari-jari saya. Bu Reni hanya setengah tertegun diam saya. Diam. Diam. "Saya senang sekali menang Anda ingin tinggal di sini. Entah bagaimana rasanya rumah ini jika tidak ada Anda dan Yoyo. Tenang. Tidak ada lagi yang bisa diharapkan. Mungkin ibu bisa mati ngenes di rumah untuk ini" kata Bu Reni perlahan membungkuk murung. "Mengapa memberitahu ibu baru sekarang?" Saya bilang. "Untuk apa?" Kata bu Reni menggeleng. "Setidaknya beban ibu dapat dikurangi" "Buat ibu cukup untuk melihat Anda dan Yoyo ceria dan bahagia di rumah ini. Ini adalah Anda yang membuat ibu merasa di rumah di rumah. Untuk apa ibu harus mengurangi semua itu dengan masalah ibu. Ibu sayang padamu "kata Mrs. Reni memegang jari-jari saya. Saya menanggapi dengan meremas jari-jarinya perlahan. "Anda memenangkan kasih sayang dari ibu? Bu Reni meminta saya. Aku mengangguk, tersenyum. Bu Reni senyum bahagia. Lalu entah bagaimana aku putus asa untuk hanya menutup wajah saya, mencium kening dan pipinya dengan lembut. Aku melihat wajah Bu Reni kejutan tetapi mengatakan apa-apa. "Bu Reni marah?" tanya saya. Dia menggeleng dan bahkan mencium saya kembali, beristirahat kepala miring nya dipundakku dan meletakkan dipinggangku tangan kanannya. Aku memeluknya. Sebuah waktu yang lama tampaknya kita berdiam diri. Tapi Aku merasakan kedamaian. Sampai akhirnya suara motor Yoyo bahwa ia menyelesaikan studi diskusi dikelompokkan tiba dan gerbang suara dibuka. Sejak insiden malam itu hubungan saya dengan Ibu Reni menjadi semakin aneh. Mungkin awalnya hanya menunjukkan kasih sayang dan cinta seperti anak kepada ibunya dan sebaliknya. Meskipun diam-diam setiap kesempatan kita masing-masing tidak menyembunyikannya. Tataplah satu sama lain dengan kasih sayang, bercanda dan merawat lebih dari pertama-pertama. Tapi seperti air tidak diatur, semua hanya mengalir. Semakin bu Reni dan saya berani mencium satu sama lain. Sayang dan lembut ciuman pada setiap kesempatan yang ada gejolak seluruh rumah tahu Tapi hati saya masih belum bisa kuingkari. Saya sering bertanya pada diri sendiri: sayangku, cintaku, ciuman dan pelukan saya di Bu Reni merupakan manifestasi dari anak di sosok ibu, atau seorang pria pada seorang wanita. Jantung dan otak saya setiap hari naik pertanyaan sialan. Sangat mengganggu. Semua yang masuk ke kuingkari bahwa nafsu tidak bisa selalu mengikuti saya jika saya dekat dan mencium Bu Reni. Selama ini saya mencoba untuk menekannya. Tapi itu meledak disuatu tenang sore. Pada awalnya saya hanya ingin meminjam koran yang biasanya meletakkan ruang keluarga rumah utama. Tapi ketika saya melihat Ibu Reni berdiri menikmati ikan hias aquariumnya. Tiba-tiba aku ingin menggodanya. Aku berjingkat perlahan dan menutup matanya dengan tangannya dari belakang. Reni ibu terkejut mencoba menarik tanganku. Aku tertawa untuk tetap menutup mata. Tapi akhirnya Bu Reni juga diakui. Tangan Kukendorkan. "Wiiiinnn Anda membuat ibu setiap terkejut akh .." Kata Ibu Reni masih berpaling kepada saya dan menarik tangan saya dada kedepan. Bu Reni bersandar di dada saya. Tangan kanan pada payudaranya yang terasa lembut. Aneh lonjakan mengalir didarahku. Sementara Ny Reni terus mengomentari ikan di akuarium, saya hanya melihat bulu dileher jenjangnya lembut rambut sebahu lurus ketika menarik ke atas dan disematkan penjepit rambut, sampai saya dapat menikmati leher bagus utuh. Aku berdesir. Aku merasa napasku mulai berat. Dengan bibirku akhirnya mencium leher. Bu Reni mengerang menggelitik dan mencubit lenganku genit.

1 (307)

"Hiiiii. Apakah Wiiinnnn akhhhh ... Goosebumps ibu ah" ditetek lengan dan dada saya semakin kuat. Ketika saya melihat bahwa ia tidak marah dan tenang kemudian mengulanginya menciumnya berulang kali. Kumis dan cambang dijanggutku geli. Tapi aku merasa tangan mencengkeram erat Bu Reni perlahan di kedua jari saya dan dia berkata apa-apa. Aku semakin bernapsu. Ciuman, ciuman dan menghisap bibir saya menjadi semakin menjadi keleher dan telinga. Bu Reni mendesah menutup matanya. Kepalanya bergerak-gerak tindak cumbuanku. Matanya tertutup dan gelombang napasnya. Aku mencari bibirnya, karena sulit maka saya berbalik tubuhnya ke arahku dan segera aku menyambar dengan bibir saya. Aku memeluk erat Bu Reni. Dia menggeliat membalas bermain bibirku. Kedua tangan memegang bagian belakang kepala saya seakan takut aku melepaskan mencium bibirku. Kuremas meremas payudaranya dengan tangan kanan saya. Bu Reni melepaskan ciuman terakhir merintih dengan kepala terdongak ke belakang seolah-olah memberi saya leher. Dengan langsung bibirku Aku mencium leher. Tapi tiba-tiba Bu Reni setengah menghentakan tubuh saya seperti tengah bangun dari mimpi dan shock dia berkata: "Oh Tuhan, Wiiinnn ... apa yang kita lakukan?" Ibu Reni dariku dan meletakkan kepalanya kedinding menahan hati. Aku akan mematikan. Diam. lama. Aku menjadi semakin gelisah. Saya ingin negara itu berakhir. Aku mendekati bu Reni, memeluknya lagi. Kata-kata cinta tumpah keluar dari mulut saya. Semua yang membuat bu Reni bingung. Menggeleng dan berlari kembali ke kamar untuk menahan tangis. Beberapa hari setelah kejadian itu Ibu Reni tidak menyapa saya dia selalu berusaha untuk menghindari saya. Aku bingung, aku takut dia marah. Aku takut dia menolak cintaku. Aku takut gila, ibu kos sendiri mencintai, istri dan wanita yang jauh lebih tua dari saya. Ditolak pula. Bah!. Aku mulai murung. Tapi itu hanya sekitar dua minggu. Hanya sampai satu malam, saat bulan jatuh dipelukanku Bu Reni lembut menyambut saya dan tanpa berbicara satu kata berciuman. Bah!. Semua waktu juga, jika dibalik ke "dewasa" sesekali melihat genitnya berkilau, adalah bukti bahwa sebenarnya sudah lama aku tidak bertepuk sebelah tangan. Tapi Ibu Reni takut untuk berbicara tentang cinta, bahwa dia mencintai, merindukan dan membutuhkan aku ya. Selain itu, kami selalu berusaha untuk bersikap adil di depan seluruh rumah dan tetangga. Satu hal yang pasti bahwa kita bebas bisa saling bercerita tentang apa pun. Termasuk kebiasaan masturbasi membayangkan hubungan dengan dia yang membuatnya tertawa terbahak-bahak. Alih-alih bu Reni saya tahu, bahwa Sd paket aneh suaminya, pertarungan diranjang pernah menang tapi malah punya simpanan. Untuk mencapai orgasme jika dia memiliki hubungan seksual dengan suaminya sering membayangkan hubungan intim dengan saya. Gila. Kami terus mengalir tanpa makna halangan. Maksud saya tidak ada perilaku yang dapat menyebabkan kecurigaan dan tetangga rumah tangga. Sampai suatu hari Pak Rudi tetangga kami yang tinggal enam rumah menikah anaknya kami. Semua hari saya diganggu oleh nafsu dan kecemburuan. Seperti biasa, jika lingkungan perumahan ada pernikahan maka Pak Hendra dan Ibu Reni akan resepsi. Mr Hendra berpakaian beskap, berjarik, blangkon dan berkeris. Bu Reni akan berkebaya, berjarik dan berselendang dengan rapi bun rambut. Bu Reni sendiri tahu bahwa dengan pakaian seperti itu sering saya mengungkapkan kekaguman saya atas keindahan dan seks apple daripadanya. Aku tampak tubuh terlihat kesintalan gelisah terjalin pakaian tradisional Bu Reni Jawa yang ketat. Jika berjalan pinggulnya bergoyang sensasi mengundang. Beberapakali kutebar menatap sekitar, selalu ada terlihat mata apakah seorang pemuda, apakah ada pandangan tengah tua atau pemberitahuan. Itu membuat saya marah pingin rasanya. Tapi sebelum upacara pernikahan itu lebih tiba-tiba pembantu Bu Reni, yang biasanya saya sebut ya Suti datang kabar bahwa ia baru saja menerima telepon di rumah yang mengabarkan Hendra adik Pak yang tinggal di kota P mengalami kecelakaan lalu lintas. Pak Hendra, Bu Reni, Yoyo, Mbak Suti dan saya akhirnya meninggalkan rumah pertama di Falcon pack. Sampai di rumah, Pak Hendra dan Ibu Reni dipanggil kembali ke kota P melakukakn konfirmasi berita. Suster pak Hendra bersama Dorti putrinya yang mengalami kecelakaan. Mobilnya ditabrak oleh bus antar kota yang selip. Dua dari mereka masuk ruang gawat darurat rumah sakit dan Bapak Hendra sebagai anak tertua di keluarga diminta untuk datang. Teman sekamar Yoyo sendiri ingin pergi mengintip. Naksir Yoyo pada Dorti, pernah menyatakan cinta dua kali. Tapi kedua kali Dorti menolak. Sementara Ibu Reni sendiri harus tetap untuk besok pagi ada tim BPKP dari Jakarta yang akan datang melakukan audit kantornya. Ibu Reni orang kunci yang harus ada. Pak Hendra dan Yoyo P pergi ke kota dengan mobil dan akan berhenti dengan paket rumah Sarmin pembalap pertama yang diundang untuk meninggalkan. Aku, Ibu Reni dan Ms Suti chatting singkat membahas kemungkinan yang terjadi di Hendra dan adik ranselnya. Sampai Ibu Suti menguap beberapa kali. Selama obrolan tidak pernah mengambil mata saya off dari busungnya Bu Reni dada dengan payudaranya yang montok dan sedikit terlihat. Ibu Suti segera minta diri untuk tidur. Aku tinggal pusat ruang, sendirian, melamun. Karya hubungan begitu lama. Selama ini kita hanya dengan memeluk batas, mencium, tumpang tindih diranjang dengan napas menderu dan orgasme tak berujung tanpa coitus. Siapa yang tahu berapa kali penis saya menekan gesekan dimemeknya celana basah. Aku ingin tahu berapa kali pejuhku membasahi diri sendiri dan pakaian saya celana Bu Reni. Jadi meskipun penis saya tidak pernah masuk kememeknya, kecuali hanya menggores dan orgasme saya, masih perjakakah saya?. Langkah Bu Reni terdengar dan terus menatap kekuasaan kurus lebih tubuhnya-ayun, dari kepala sampai kaki ketika dia berjalan ke arahku. Stagen pinggang pergi sampai perutnya sedikit terlihat. Dadaku berdebar. Berulang kali menelan air liur. "Anda lihat ibu, kaya melakukan ibu ?!" Kata Ibu Reni genit melambaikan dimukaku tangan kanannya. "Dia cantik, lebih seksi, seksi sekali berkebaya dan saya berbalik sekali" kataku sambil menunjuk kekontolku ala kadarnya. "Hus. Setelah, sekali. Daripada melamun di sini pijitin ibu" Kata Ibu Reni duduk membelakakingiku dan menepuk bahunya. Aku memijat bahunya perlahan. Bu Reni kadang menggeliat keenakan. Semakin lama pijitanku lebih bawah, kepunggungnya, menjadi tulang rusuknya, kepinggangnya. Tak lama ditarik kembali bahunya dan aku beristirahat kedadaku, saya menempatkan meninggalkan kepipi pipi kanan saya saya. Kemudian kupijit kedua pahanya, kuelus membujuk diperas dan diperas sampai kepinggulnya. Bu Reni menutup matanya. Pijitan dicampur membelai tangan saya merangkak naik dan berhenti dada memeras payudara besar dan lentur merasakannya. Kugesek-gesekan dirambut wajahku dan kondenya, pipi, dan telinga kukulum-kulum. Deru napas Bu Reni mulai tak menentu kadang-kadang diselingi dengan desahan halus. Tangan kanannya mencoba meraih kepala saya, kadang-kadang lembut menjambak rambut saya. Menggosok telapak tangan menggosok kepipi kirinya saya meninggalkan. Meremas tangan saya ke payudaranya tumbuh liar, mengular mencium kepala wajah apapun saya. Aku membuka kancing blusnya. Sembulan sepertiga dari BHnya payudara yang indah sekali. Aku mulai terangsang. Ngaceng penis saya telah meledak. Menarik baju saya turun blus ke bahu dan leher belakang bebas Aku mencium dan menjilat.

1 (306)

Reni mengerang nikmat ibu. Saya meletakkan tangan saya memeluknya erat-erat. Bibir Bu Reni yang saya meraih dengan mulut setengah terbuka dan kukulum habis. Ujung lidah kita bertabrakan, seberapa jauh aku berlari lidah saya bisa masuk, mulut kerongga-rongga. Jadi kami bergantian. Aku dan Ibu Reni mulai tidak tahan, kurebahkan dia di sofa. Aku berlari tubuh saya, saya mencium di wajah, dada, paha perut, dan betis yang masih terbungkus kain jarik. Naik lagi dan kutindih Bu Reni. Merangsangku semakin mengerang. Aku membuka sabuk pinggangnku. "Jangan di sini Sayang. Nanti kalau bangun Suti up ... .." kata Tiba-tiba Ibu Reni tidak menyelesaikan kalimatnya. Kami berdiri. Bu Reni menghapus celana ritsleting, meletakkan tangannya di kecelana saya dan meremas-remas penis saya tegang dengan geregetan. "Heeeemmmmmm" Katanya kemudian membawa saya masuk ke kamarnya berjalan mundur untuk menahan dan menarik penis saya. Itu membuat kami tertawa. Mengunci pintu kamar tidur cepat. Aku membuka bajuku dan Bu Reni setengah dibuka celana saya turun dan mencari penis. Jadi dapat langsung dimasukkan kemulutnya, asap-hisap menjilat, mencium dan kadang-kadang dikocok krim dengan tangannya. Dengan cara ini ia belum pernah dilakukan. Aliran kenikmatan merambat naik ke puncak kepala saya. Aku memberinya isyarat menyerah penis saya. Aku dipuncak Nafsu dan ingin menempatkan penis saya hanya kememeknya, tapi dia menolak. Tubuhku terasa lebih tulang akan bergetar dengan berlepasan dan saraf ke saya kedutan tubuh, rasa lezat. Bu Reni jadi bernapsu dan nikmat memainkan penis saya di mulutnya dan aku tidak tahan berbaring permintaan diranjang. Bu Reni pakaian blus. Dengan tetap BH masih dada dan kain jariknya belum terpisah, mulutnya langsung mengejar burung pusakaku sampai dua biji telornyapun dia mencium, menjilat dan menghisap. Aku semakin bergidik, melayang nikmat. Sampai dipuncaknya, saya tidak punya waktu untuk menceritakan pejuhku keluar. Sampai akkhh ... Crott ... crooot. Crroott. Pejuhku menyemprotkan di mulut Bu Reni. Tapi Ibu Reni sebenarnya bahkan bernapsu, menelan dan terus menghisap-menghisap penis saya sampai bersih, telanjang dan sakit rasa. Aku terkejut. Duduk. "Aku menelan? ... .Apa Jangan jijik ibu?" Aku bertanya bodoh. Ibu Reni menggeleng, hanya dia yang cerah wajah, wajahnya memancarkan kepuasan. Aneh saya pikir. "Orang-orang mengatakan, minum air mani perawan akan membuat wanita lebih muda. Longgar ibu yang terang benar atau tidak mencoba hanya sayang" kata Ny Reni kemudian mencium wajah ke dadaku, sementara tangan kanannya terus menekan penis saya. "Ayo lagi sayang, ibu pingin Anda puas" Kata Ibu Reni intim. Siapa penis lemas karena itu keluar pejuh dan shock mulai memperketat lagi akhirnya. Bu Reni kembali mengisap mengisap dan menyedot penis saya. "Jika ibu masih pingin, mengambil semua pejuh saya" kataku Ibu Reni tersenyum. Saya membukanya dan menarik BHnya jariknya kain loop. Bu Reni berdiri untuk mudah kain rilis jariknya. Tubuh telanjang langsung kuterkam, kurebahkan dan kutindih. Dua payudara besar bahwa saya merokok-mengisap puting bergantian. Tangan kananku menggosok vagina. Aku mencium, dan saya merokok-hisap kujilati semua bagian sesuai dengan naluri dapat membangkitkan gairah. Bibir, lidah, telinga, telinga leher, payudara, perut, pusar, paha, vagina, betis sampai ke jari dan kaki. Bu Reni tubuh karuan bergelinjangan sesak dada kedutan. Meremas tangan kirinya tangan kanan meremas payudaranya dan menggosok vagina itu sendiri. Rambut bun Bu Reni hampir terpisah. Mulutku atas naik lagi ke betis dan paha sampai berhenti dimemeknya. Dengan kedua tangan kusibak perlahan jembutnya. Aku melihat bagian dari pemerahan vagina mengkilap dan di dalam ada yang berdenyut-denyut. Aku mencium lembut, dimemeknya bahu membuat sensasi yang aneh. Tidak pernah ada bahu seperti ini memiliki selera yang pernah dikenal. Dengan kugesek bagian hidung-gesekan Bu Reni vagina sambil menikmati aroma bahunya. Gelinjangan erangan dan terlihat seperti pemandangan yang indah menarik. "AaaaKhhhk ... .Eeeekhhhh ... madu yang lezat. Teruuuuuusss sayang" erang Ibu Reni. Saya terjebak lidahku, kujilat sedikit pus, tidak ada rasa asin. Kemudian dari bawah ke atas saya terjebak lidahku menjilati vagina belahan. Jadi naik dan turun, melihat reaksi Bu Reni. "Akkhhh ...... ...... .Akkkhhhh .Akkkhhhhh hhhh ... E nggh dd" Bu Reni terus mengerang nikmat, tangan mencari tangan kananku, meremas-remas jari-jari saya dan membawa ketoketnya. Aku tahu dia ingin yang meremas payudaranya tanganku. Jadi jangan terus, tangan kananku 'meremas payudaranya, menjilati dan mengisap mulut-hisap vagina, tangan kiri saya mengelus pinggangnya, paha sampai kebetisnya putih mulus dan halus itu. "Akkkhhhh ... sudah sayang ... sudah ... .ayo sekarang sayang ibu tidak dapat berdiri akkkhhhh ... .masukan Sayang, masukkan" desah Mrs Susan mengerang meraih kepalaku untuk berhenti menjilati dimemeknya dan meminta dikentot. Tanpa harus mengulang permintaan saya hanya merangkak naik, menghancurkan tubuh Ny Reni. Bu Reni melebarkan pahanya. Penis kepala vaginanya. Beberapa kali saya mencoba, menempatkan, beberapa kali juga gagal. Saya tidak tahu mana yang cocok lubang, yang hanya sekitar vagina. Tapi tangan Bu Reni segera untuk membantu, memegang penis saya,

1 (305)

membimbing vagina lubang kedepan dan berkata "Ya itu sayang ... sayang ada ... tap ... tap ... ada aaakkkhhhh ... sayang .ayo. .. ibu tidak tahan ... ooo..akkkhhhh "Ibu Reni merintih ketika penis saya menekan ke tempat kelobang vagina. Untuk sesaat kaku tubuh saya, saya tidak mengatakan apa-apa, aku merasa gugup. Penis Rod merasa terjepit oleh Ibu Susan yang dinding vagina sebagai berdenyut dan menghisap-menghisap. Nikmat yang luar biasa. Ini adalah pertama. Bu Reni menggoyangkan pinggulnya, setengah berputar-putar dan kadang-kadang naik dan turun. Penis Dimemeknya terjebak setengah menodai dibuat sebagai mainan yang membuat lezat karuan. "Ayo sayang ... ayolah ... bersama-sama ... sayang sayang ibu akan keluar ... ayo..ayo ... .." erang Ibu Reni dengan mata setengah tertutup dan mulutnya disimpan terbuka mendesah-mendesah dan pinggul gemetar semakin kuat. Saya akan terus menjaga sampai tiba-tiba Bu Reni sebagai diam dan kedua lengan di leherku kuat, dan dari mulutnya keluar napas panjang: "Aakkkhhhhh ...... Oukhhhhhhhh ... .Engk hhhhhh ..... . "Seiring dengan kepuasan mengerang, denyut dan hisap vagina Bu Reni kuat dan lezat rasa. Aku tidak akan tahan lagi dan keinginan pejuhku segera keluar. Oleh karena itu Kunaik menurunkan penis saya, saya berbalik dan kunaik-down terus sampai crooottt ... crooootttt .. crroooot .... "Akhhh ............" Bersamaan dengan muncratnya pejuhku dimemeknya, kembali Bu Reni mendesah nikmat. Terengah-engah, aku lemas sekali mencicipi. Sementara Ny Reni masih menggoyangkan pinggulnya dan tangannya dengan lembut membelai rambutku. Beberapa kali saya membiarkan sisanya tubuh saya pada tubuh telanjang Ibu Reni tanpa tangan atau dengkulku menahan beban tubuh saya. Penis tetap dimemeknya terjebak. Ketika ia ingin Ibu Reni ditarik keluar larangan. "Tidak sayang, jangan dicabut dulu, biarkan ibu memiliki dan menikmatinya, pelukan pelukan ... ... tindihlah tetap sayang ibu. Ibu puas, sayang Hemmmm Anda puas? ... .enak Terhormat? .... "Kata Ibu Reni sambil terus menciumku. Malam itu kami menghabiskan tidur kelonan diranjang yang biasa Ibu Reni tidur dan telanjang dengan suaminya. Tapi karena malam itu dan setiap kesempatan ada pula kuentot Bu Reni diranjang yang sama. Saya tidak perlu lagi bayangkan masturbasi telanjang dengan dia, atau Ibu Reni tidak perlu lagi bayangkan saja aku telanjang jika dia menjabat suaminya. Kami hanya ngentot dihotel jika salah satu dari kita punya cukup kesempatan di rumah sementara tidak ada. Atau ketika obsesi berulang untuk telanjang dengan Ibu Reni dalam pakaian kebaya, kain jarik dan berkonde. Hal ini kadang-kadang aneh, berlama-lama Bu Reni Salon makeup, setelah selesai langsung ke hotel dan kuobok mencampuri berantakan. (Ya Aneh?!.). Sering pula jika keadaan memungkinkan, Bu Susan suka menyelinap ke kamarku untuk "seks cepat". Seks cepat sementara masih berpakaian. Tanda Bu Reni masuk ke kamar saya sudah tanpa celana dalam dan dipuncak nafsu. Hal ini sering terjadi jika Bu Reni diperlukan tapi Mr. Hendra acuh tak acuh terus tidur. Tentang vagina Bu Reni, mungkin hal itu disebut vagina empot ayam. Pussy yang pernah bertemu di semua wanita (saudara, ya-ya, bibi dan ibu rumah tangga muda dan tua) yang tidak pernah bercinta, sampai hari ini meskipun diumurku 37 tahun. Jadi cerita tante girang kali ini, mudah-mudahan menghibur untuk Anda, lebih banyak cerita yang telah kami terus menunggu koleksi kami untuk memperbarui cerita panas dan pasti membuat Anda penasaran lagi. Sampai jumpa di posting berikutnya.

author