cerita sex tante yeni ku

2207 views

Jakarta! Ya, akhirnya jadi juga aku ke Jakarta. Semua orang kota impian, setidaknya untuk sedesaku di Gumelar, Banyumas, 23 Km di utara Purwokerto, Jawa Tengah. Saya melakukan desa. Tubuh saya tidak menjelaskan usia saya yang baru berusia 16 tahun, bongsor berotot dengan kulit coklat gelap. Saya baru saja lulus dari ST (Sekolah Teknik) Negeri Baturaden, sekitar 5 km dari desa Gumelar, atau 17 Km utara Purwokerto. Setiap hari kegiatan saya selama ini jika tidak ada sekolah, membantu Bapak dan Ibu berkebun. Itu sebabnya kulit tubuh saya jadi berotot dan gelap. Kebun saya tidak begitu luas, tapi cukup untuk mempertahankan kita sehari-hari kehidupan keluarga yang hanya 5 orang. Saya memiliki 2 adik semua, 12 dan 10 tahun. Bisa dikatakan aku orang ini? Menyemprotkan?. Anak-anak dari sebuah desa kecil yang terdiri dari hanya belasan rumah yang terletak di kaki Gunung Slamet. Jarak antara rumahpun terpisah karena diselingi kebun, aku jadi jarang bertemu orang. Situasi ini mempengaruhi kehidupan nanti.

1 (184)

tenang dan tidak pandai bergaul, terutama dengan perempuan. Pengetahuan tentang wanita hampir dapat dikatakan nol, karena lingkungan bergaulku hanya sekitar rumah, taman, dan sekolah teknik murid 100% laki-laki. Pembaca yang budiman, yang akan membaca kisah ini adalah pengalaman kehidupan nyata sekitar 9 sampai 6 tahun lalu. Pengalaman nyata saya memberitahu segalanya untuk Mas Joko, kakak kelas saya, satu-satunya orang Saya percaya bahwa hobinya menulis. Dia sering menulis untuk majalah dinding, buletin sekolah, koran dan majalah lokal yang beredar di sekitar Purwokerto. Mas Joko kemudian meminta izin saya untuk menulis kisah hidup saya adalah unik dan ia mengatakan bahwa ia akan diposting di Internet. Aku memberinya izin asalkan nama saya tidak disebutkan. Jadi panggil aku Tarto, nama samaran tentu saja. Aku pergi ke Jakarta dengan izin dari orang tua saya, bahkan mereka didorong. Pada awalnya saya sebenarnya enggan meninggalkan keluargaku, tapi ayahku ingin aku pergi ke sekolah untuk STM. Saya lebih suka bekerja sendirian di Purwokerto. Saya menerima proposal selama ayah saya di SMA (sekarang SMU) dan tidak di desa. Dia memberi adik alamat misannya yang telah sukses dan tinggal di nomor Tebet, Jakarta. Ayahku sangat jarang berhubungan dengan adik misannya. Kebanyakan hanya beberapa kali melalui surat, karena telepon belum masuk desa saya. Kabar terakhir yang saya dengar dari ayah saya, saudara misannya itu, sebut saja Paman Ton, punya bisnis sendiri dan menjadi sukses, menikah dengan satu anak berusia 4 tahun dan makmur. Rumahnya cukup besar. Jadi, berbekal alamat, dua pasang pakaian, dan uang yang sederhana, saya pergi ke Jakarta. Satu-satunya petunjuk yang saya Ness: pagi naik kereta dari Purwokerto dan turun di stasiun Manggarai. Tebet tak jauh dari stasiun ini. Manggarai, di 15:20 siang saya dicengkeram oleh kebingungan. Begitu banyak orang dan kendaraan yang lewat, sangat jauh berbeda dari suasana desa saya sepi dan sunyi. Singkat cerita, setelah? Melawan? hampir 3 jam, tanya ke sana kemari, dua kali naik mikrolet (sekali salah naik), semua naik motor mahal bukan main, datang kepada saya di sebuah rumah besar dengan taman yang indah yang cocok dengan alamat yang saya bawa. Palpitasi saya masukkan pagar pintu sedikit terbuka, tekan pintu dan menunggu. Seorang wanita muda, kulit bersih dan .. ya ampun, saya pikir cukup (mungkin di desa saya tidak ada wanita cantik), berdiri di depan saya tampak sedikit mencurigakan. Setelah saya menjelaskan dari mana Aku datang, wajahnya cerah. ? Tarto, huh? Datang, datang. Kenalkan, saya Tantemu.? Aku gugup menyambut uluran tangan. Tangan halus. ? Awalnya Paman Ton ingin memilih Manggarai, tapi ada acara mendadak. Tante engga Anda sudah memikirkan hal ini. Naik apa, liar, ya ?? Cara yang ramah Cecarnya. ? Maaar, membuat minuman!? menangis kemudian. Segera datang seorang wanita muda berbaring minuman ke meja dengan hormat. Wanita ini ternyata menjadi pembantu, saya pikir keponakan atau anggota keluarga lainnya, karena terlalu? Trendi? pakaian gaya untuk pembantu. Apa yang saya tidak mengharapkan sambutan yang ramah. Menurut cerita yang saya dengar, Jakarta terkenal individualis, tidak ramah dengan orang asing, antara tetangga tidak mengenal satu sama lain. Tapi wanita, istri oomku, nama Tante Yani (? Panggil aku,? Kata Tante akrab) ramah, cantik lagi. Tentu saja karena saya sudah pengenalan oleh Paman Ton. Aku diberi kamar sendiri, meskipun sedikit di belakang tapi masih di rumah utama, dekat dengan ruang keluarga. Kamar saya tidak ada AC, memang seluruh ruang di rumah utama ber-AC. Ini adalah sebuah kemewahan bagi saya. Tempat tidur saya ada kasur yang empuk dan selimut tebal. Meskipun AC cukup dingin, saya pikir saya tidak membutuhkan selimut tebal. Mungkin aku hanya menggunakan kain putih tipis yang di lemari untuk selimut. Rumah itu cukup dingin di desa saya karena terletak di kaki gunung, aku tidak pernah memakai selimut, tidur di tempat tidur kayu telanjang hanya tikar. Aku diberi? Otoritas? untuk mengatur kamarku sendiri. Aku masih merasa canggung makhluk di rumah mewah ini. Malam itu aku tidak tahu apa yang harus dilakukan. Selesai merapikan kamar, aku hanya tertegun sendirian di ruangan. ? Juga, di sini, tidak bersembunyi di ruang menulis,? Bibi menelepon saya. Aku sampai ke ruang tamu.

1 (183)

Bibi duduk di sofa menonton TV. Sudah lapar, Untuk ?? ? Tidak Tante.? Sore ini saya makan kue-kue yang tersedia Si Maret? Kami menunggu Paman Ton ya, maka kita makan malam bersama.? Paman Ton meninggalkan pekerjaan sekitar 19 jam berlalu. ? Selamat malam, Paman,? Saya bilang. ? Uh, Ini Tarto? Anda sudah besar.? ? Ya Oom.? ? Bagaimana kabarnya Mas Kardi dan Yu Siti,? Oom meminta ayah dan ibu saya. ? Baik Oom.? Pada meja makan Oom banyak tentang rencana sekolah di Jakarta. Aku akan didaftarkan ke dekat rumah SMA. Saya juga diminta untuk menjaga rumah karena Oom kadang-kadang harus perawatan Bandung atau Surabaya bisnis. ? Ya, saya kadang-kadang takut juga engga ada laki-laki di rumah,? Tante lonceng. ? Berapa umurmu sekarang, Untuk ?? ? Dalam dua bulan saya berusia 16 tahun, Paman.? ? Setelan tubuh Anda engga umurmu.? Untuk dilanjutkan ... Cerita tante girang akan berklanjut kemudian, yeni cerita bibi pasti akan membuat Anda penasaran, pahanya yang mulus, indah, bohay dan yang pasti akan membuat ngecrot

author