cerita sex cerita sex tante yang kesepian

998 views

Cerita emang cougar tidak ada habisnya, saya selalu menarik untuk diikuti, dalam perjalanan blog ini, memiliki banyak cerita tante girang yang kami berikan, dan semua cerita semakin banyak aplous pembaca, untuk itu, setelah rasa terima kasih kami, kami memberikan lagi kisah tante girang bernama Cynthia.

Panggil saja namaku Aldi. Umur saat ini 27 tahun. Dikampungku ada seorang janda 46 tahun, namanya menyebut hanya Tente Chintya. Meskipun ia sudah kepala empat dan sudah memiliki 3 anak yang sudah besar, namun tubuhnya masih terlihat bagus dan terawat dengan baik.

Chintya bibi memiliki wajah cantik dengan rambut sebahu. Kulit putih bersih. Selain itu membuat saya terpesona selama ini adalah payudara bibi gemuk Chintya yang luar biasa. Saya kira ukuran 36C payudara. Ditambah pinggul yang fantastis yang dimiliki oleh janda cantik. Chintya bibi tubuh indah yang dibuat tidak dapat menahan birahiku dan selalu bermimpi bisa menikmati tubuh padat berisi. Setiap masturbasi, tetangga wajah dan tubuh itu selalu menjadi inspirasi saya.

1 (258)

Itu pagi sudah menunjukkan angka tujuh. Aku sudah siap untuk pergi ke perguruan tinggi. Motor saya berjalan lambat keluar dari gerbang rumah. Jarak aku melihat sosok wanita berjalan sendirian. Mataku secara naluriah terus mengikutinya. Maklum menulis, saya sangat kagum pada tubuh wanita yang berpikir fantastis, meskipun dari belakang. Pinggul dan pantat benar-benar membuat hati saya bergetar. Saat itu saya hanya bertanya-tanya apakah wanita itu bibi Chintya. Pada saat yang sama, celana mendapatkan sedikit ramai karena kon ** LKU awal tidak bisa mengambil berat kompromi alias ngaceng.
Perlahan motor saya menunjuk agak lebih dekat untuk memastikan bahwa wanita itu adalah bibi Chintya.

"Eh bibi Chintya. Di mana Anda akan tante?" Kataku.

Bibi Cynthia agak terkejut mendengar suaraku. Tapi ia kemudian tersenyum manis dan membalas sapaanku.

"Um .. Anda Ron. Tante akan ke kantor. Anda ingin pergi ke perguruan tinggi?" Tanya Bibi Cynthia.
"Iya nih tante. Masuk delapan. Jika demikian bagaimana jika bibi saya pertama anter ke kantor? Kebetulan, aku mengambil helm satu lagi," kataku, menawarkan layanan dan harapan bibi Chintya tidak menolak ajakanku.
"Jangan membuat saya, Anda akan terlambat ke kampus, Anda tahu"

Suara lembut Chintya bibi dan saat lembut membuat penisku semakin menegang.

"Tidak ada yang benar-benar bibi. Pokoknya saya benar-benar dekat kampus," kataku, mataku selalu mencuri pandang tubuhnya pagi itu bletzer canggung dan celana. Meskipun tertutup oleh pakaian yang rapi, tapi aku masih bisa melihat lekukan payudaranya kebayakan jelas.
"Tepat Aldi ya ingin nganterin bibi ke kantor? Jika Anda naik sepeda sehingga begitu-begitu bibi," kata Bibi Cynthia sambil melangkah diboncengan.

Saya agak terkejut karena cara yang bibi membonceng tersebut. Tapi bagaimanapun saya masih menguntungkan karena punggung saya kadang-kadang bisa merasakan kelembutan payudara bibi yang sangat saya kagumi. Terutama ketika melewati gundukan di jalan, rasanya payudara bibi terjebak di belakang saya menambahkan. Itu bibi pagi Chintya saya anter sampai ke kantornya. Dan aku segera menuju ke kampus dengan perasaan senang.

Waktu itu hari Sabtu. Kebetulan kuliah libur. Tiba-tiba telepon di sebelah tempat tidurku berdering. Aku segera mengangkat. Dari seluruh suara lembut seorang wanita.

"Bisakah saya berbicara dengan Aldi?"
"Ya saya sendiri?" Saya menjawab dengan tanda tanya karena merasa akrab dengan panggilan suara.
"Selamat pagi Aldi. Bibi Cynthia!," Aku benar-benar terkejut campuran.
"Se .. Selamat .. Pa .. Gi tante. Wah tumben nelpon saya. Ada yang bisa saya bantu bibi?" Kataku sedikit gugup.
"Pagi ini ada acara Anda tidak Ron? Jika ada acara untuk tidak datang ke Bibi ya. Tidak bisa itu?" Pinta bibi Chintyay dari ujung lain.
"Eh .. Dengan senang hati bibi. Kemudian, setelah mandi saya langsung ke bibi," jawab saya. Kemudian sambil memegang tangan kiri saya secara naluriah con ** LKU yang mulai membengkak karena membayangkan Bibi Cynthia.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan menunggu. Met Aldi pagi .. Lihat nanti!" Suara lembut Bibi Cynthia yang sangat menarik bagi saya akhirnya hilang di ambang tepelon sana.

Pagi itu aku benar-benar senang mendengar permintaan Chintya bibi untuk datang ke rumahnya. Dan pikiran nglantur di mana-mana. Sementara tanganku masih membelai penisku semakin lama, terus berkembang sambil membayangkan jika yang memegang kon ** LKU itu Bibi Cynthia. Karena keinginan saya telah apung, maka segera saya lampiaskan birahiku dengan masturbasi menggunakan didol boneka montok yang saya beli beberapa bulan yang lalu.

Aku membayangkan aku melakukan hubungan dengan Chintya bibi yang sudah telanjang sehingga payudara montok tunggu untuk dikenyut dan diremas. Mulut dan tangan segera menyapu seluruh tubuh boneka.

"Tante .. Tubuhmu indah. Payudara Montok sekali bibi. Aaah .. Ehs .. Ah," mulutku mulai membayangkan sukacita ML merancau dengan Chintya bibi.

Karena tidak tahan lagi, segera penisku, aku memasukkannya ke dalam vaginanya didol. Aku mulai bergerak naik dan turun memeluk dan mencium bibir erat boneka yang saya kira sebagai bibi Chintya itu dengan penuh gairah.

"Um .. Ehs .. Nikmat sekali sayang .." kon ** LKU lebih aku mengayuh cepat.
"Tante .. nikmat sekali memekmu. Aaah .. Tambang keluar sayang .." mengoceh mulut, berbicara kepada diri sendiri.

Akhirnya tak lama kemudian penisku menyemburkan cairan putih kental ke dalam lubang vagina boneka. Sudah tubuh saya lemas. Setelah beristirahat sejenak, aku kemudian segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan kon ** l dan tubuh saya.

Jam telah menunjuk ke angka 8 lebih 30 menit. Aku sudah selesai mandi dan berpakaian.

"Nah, saatnya untuk pergi ke bibi Chintya. Aku sudah tidak tahan pingin melihat keanggunan tubuh dekat sayang," gumamku dalam hati.

Kulangkahkan kakiku menuju Bibi Cynthia yang menulis hanya 100 meter dari rumah saya. Sampai rumah janda montok itu, segera saya tekan pintu.

"Ya, untuk sementara," kata suara seorang wanita dari dalam yang tak lain adalah Bibi Cynthia.

1 (257)

Setelah pintu dibuka, mata saya benar-benar dimanjakan oleh pemandangan bibi Chintya sosok yang fantastis dan berdiri tepat di depan saya. Itu jalan pagi bibi mengenakan celana panjang hitam dipadu dengan kemeja ketat atasan merah dengan leher celah sedikit ke bawah. Bagian sehingga jelas yang membatasi kedua payudara montok memang luar biasa. Chintya bibi kemudian meminta saya untuk masuk ke dalam rumahnya dan menutup dan mengunci pintu kamar tamu. Saya telah membuat heran dengan apa yang janda.

"Apa bibi, mengapa pintu harus ditutup dan dikunci semua?" Aku bertanya, penasaran.

Senyum indah dari bibir sensual membengkak lama Chintya bibi mendengar pertanyaan saya.

"Oh, hanya untuk menjadi aman. Saya ingin mengajak Anda tepat ke tengah-tengah ruang meskipun ngobrolnya lebih santai sambil menonton TV," kata Bibi Cynthia sambil meraih tanganku untuk mengundang ke ruang tengah.

Bahkan sudah sejak pintu depan adalah ayam tegang sejak terangsang oleh penampilan Chintya bibi. Bahkan, kali ini tangan lembut menggenggam tanganku, sehingga con ** LKU tidak bisa berkompromi karena semakin besar aja. Di tengah-tengah ruangan berbaring karpet biru dan ada dua bantal besar di atas. Sementara tabel di atas telah minuman yang disediakan sirup merah. Kami kemudian duduk berdampingan.

"Ayo Ron pertama sirupnya mabuk," kata bibi saya.

Saya kemudian mengambil gelas dan meminumnya.

"Ron. Anda tidak tahu mengapa saya meminta Anda untuk datang ke sini?" Tanya Bibi Cynthia kanan sementara ia memegang paha saya untuk membuat saya terkejut dan sedikit gugup.
"Um .. Eng .. Tidak bibi," jawab saya.
"Tante benar-benar perlu seseorang untuk diajak bicara. Ini dikenal bibi anak-anak memiliki jarang di rumah karena mereka bekerja di luar kota dan harus sering menetap di sana. Itu membuat ya .. Kau tahu dirinya sendiri, bibi kesepian. Kira-kira Anda ingin menjadi teman chatting bibi? Haruskah tidak setiap hari pula ..!, "kata tente Chintya sebagai memohon.

Dalam hati saya senang bahwa kesempatan untuk bertemu dan berdekatan dengan bibi akan terbuka lebar. Angan-angan untuk menikmati pemandangan indah dari tubuh janda tentu akan menjadi kenyataan.

"Jika saya jika itu diperlukan, ya itu OK untuk hanya bibi. Sebenarnya saya senang untuk chatting dengan bibi. Biarkan ada juga teman. Bahkan, setiap hari juga tidak apa benar-benar"

Bibi tersenyum jawaban saya. Akhirnya kami berdua mulai berbicara tentang apa pun sambil menikmati acara di TV. Enjoi semua. Selain itu, bau harum yang tercium dari bibi tubuh membuat imajinasi saya semakin melayang jauh.

"Ron, udara panas hari ini ya? Tante panas ya. Anda terlalu panas atau tidak?" Tanya Bibi Cynthia, kali ini sedikit manja.
"Um .. Ya bibi. Sangat panas. Meskipun penggemar sudah dihidupin," kataku, mataku melirik sesekali bibi payudara membengkak sedikit, seakan melompat keluar dari kaos yang menutupinya.

Mata Tante Chintya terus menatapku membuat saya sedikit gugup, meskipun birahiku semakin meningkat. Tanpa diduga, bibi tangan memegang kancing baju saya.

"Jika panas dilepaskan aja ya Ron, dinginkan cepet," kata bibi Chintya saat membuka satu persatu kancing bajuku, dan melepaskannya sampai aku bertelanjang dada ..

Saya kemudian benar-benar terkejut dengan apa yang bibi saya. Dan aku hanya bisa tertegun diam. Saya menambahkan kagum lagi dengan sikap yang pagi Chintya tente yang meminta saya untuk membantu melepaskan kemeja ketat.

"Ron, bibi tolongin dong. Lepasin baju bibi. Panas habis pula ..," tanya bibi Chintya dengan suara manja tapi terkesan menarik.

Dengan sedikit gemetar karena tidak mengharapkan untuk mengalami realitas saya, saya lepas kemeja merah ketat dari tubuh Bibi Cynthia. Dan apa yang aku lihat benar-benar membuat darah saya dan penisku berdesir semakin tegang membesar dan jantung berdebar. Besar bibi payudara Chintya jelas di depan mata saya, tanpa bra dibungkus. Dua gunung yang indah milik janda itu tampak kencang dan padat sekali.

1 (256)

"Mengapa Ron. Apakah tiba-tiba diam?" Tanya Bibi Chintya saya.
"E .. Em .. Tidak apa-apa benar-benar bibi," jawab saya spontan sambil menundukkan kepalanya.
"Ala .. tidak perlu berpura-pura. Aku tahu apa yang Anda pikirkan selama ini. Tante sering memperhatikan Anda. Aldi adalah bibi pingin lama, kan?" Kata bibi, meraih tanganku dan meletakkan tangan saya di kedua payudaranya yang montok.
"Um .. Tante .. Sa .. Ya .. Ee ..," Saya suka tidak mampu menyelesaikan kata-kata saya sebagai gugup. Selain itu, tubuh bibi Cynthia semakin dekat ke tubuh saya.
"Ron sangat disayangkan .. Peras susu saya. Um .. Apakah sesukamu. Mari kita tidak sayang takut. Aku sudah lama ingin menimati kehangatan seorang pria," rengek bibi Chintya sementara membimbing tangan meremas montoknya payudara.

Sementara saraf sudah mulai dapat dikendalikan. Aku bangun keberanian untuk menikmati kesempatan langka, di mana hanya ada di imajinasi saya sendiri. Dengan semangat membara, susu tante Chintya saya diremas-remas. Sementara mulut dan bibir saya lembut berpagutan saling gairah. Entah bibi ketika celana dan celana off saya, tentu pada saat itu kami berdua memiliki tubuh polos tanpa selembar kainpun menempel tubuh. Permainan kami atau mendapatkan panas. Setelah puas menggigit bibir bibi, mulutku seperti sudah tidak sabar untuk menikmati payudara montoknya

"Uuhh .. Aah .." Tante Chintya mendesah-mendesah ketika lidahku menjilati ujung puting dadu berbentuk.

Aku memainkan trik puting munjung dan menggoda secara bebas. Sesekali aku menggigit putingnya untuk membuat Tante Chintya menggelinjang merasakan kenikmatan. Sementara tangan kanan saya mulai menggerayangi 'Vagina' yang sudah mulai basah. Aku menggosok bibir vagina bibi perlahan sampai napas-napas merangsang lebih keras dari bibir.

"Nik Ron .. .. .. Setelah Maat Yaang sa .. .. .. Puasilah Uuuhh Sayang bibi .. Tubuhku adalah milikmu," suara itu datang dari bibir janda montok.

Aku mengabaikan bibi ucapan karena ia sangat ingin menikmati tubuh moleknya. Perlahan-lahan setelah puas bermain-main dengan payudaranya aku membawa mulutku mulai turun menuju bibi bersih vaginanya Chintya dipertahankan tanpa bulu. Dengan lidah saya mulai menyapu bebas pus sudah basah oleh cairan.

Aku sudah tudak sabar. Kontol saya already'd berdiri ingin merasa pin janda Vagina yang indah dan montok. Akhirnya, saya menaruh penisku perlahan ke dalam celah-celah vagina. Sementara tangan bibi untuk membantu memandu tongkat ke kursus. Aku menekan perlahan dan ..

"Aaah .." suara yang keluar dari mulut ayam bibiku Chintya setelah berhasil masuk ke dalam liang senggamanya.

Kupompa penisku naik dan turun gerakan. Mendesah dan erangan yang menggairahkanpun bibi keluar dari mulutnya yang telah nafsu panas.

"Aach .. Ach .. Aah .. Terus sayang .. Lebih dalam .. Lagi .. Aah .. Nik Mat .. ..," bibi Chintya mulai menikmati permainan.

Aku terus mengayuh penisku sementara mulut saya diperkosa kedua payudara yang montok. Mungkin 20 menit kami berjuang. Aku merasa itu hampir tidak cukup. Stem pangkal paha hampir menyemprotkan air mani.

"Tante .. Saya hendak keluar .."
"Tahan seb .. Bentar sayang .. Aku jug .. A .. Bagaimana .. Aaach .." Chintya bibi akhirnya tidak bisa berdiri lagi.

Kami juga debit kenikmatan hampir bersamaan. Banyak air mani yang saya semprotkan ke bibi lubang senggama, sampai saat itu kami sudah lelah dan berbaring di atas karpet biru.

"Terima kasih Aldi. Tante puas dengan permainan ini. Kamu benar-benar jantan. Kamu melakukan tidur tidak nyeselkan dengan bibi?" Dia meminta saya.

Aku tersenyum dan mencium kening janda penuh cinta.

"Saya sangat senang bibi. Untuk berpikir bibi memberikan saya kesenangan ini. Karena lama saya melamun dapat menikmati tubuh montok bibi"

Bibi Cynthia tersenyum senang mendengar jawaban saya.

"Sayang Aldi. Mulai saat ini Anda diperbolehkan untuk tidur dengan bibi kapan saja, karena bibi tubuh sekarang adalah milikmu. Tapi Anda juga berjanji tahu. Jika bibi ingin .. Aldi menemani bibi ya.," Kata Bibi Cynthia kemudian.

Aku tersenyum dan mengangguk setuju. Dan kami mulai merangsang satu sama lain dan bercinta untuk kedua kalinya. Hari itu adalah hari yang saya tidak pernah bisa melupakan. Karena imajinasi saya bercinta dengan bibi Chintya dapat terwujud menjadi kenyataan. Sampai sekarang saya dan bibi Chintya masih selalu melakukan aktivitas seksual dengan berbagai variasi. Dan kami sangat senang.

author