cerita sex ngentot dengan tante chinese

6321 views

Cerita ini dimulai di kota saya. Kami tinggal di sebelah keluarga Cina. Kami pindah rumah ketika aku berusia enam tahun. Ayah saya adalah PNS biasa dan oom Pang juga PNS tetapi memiliki posisi tinggi. The Pang oom Cina Peranakan Manado sementara Pang bibi atau biasa disebut bibi Soen adalah Cina Peranakan Ternate. Saya memiliki seorang putri usia itu dengan nomor empat dan kami satu sekolah. Jadi kita tumbuh bersama menuju masa remaja, hanya Setelah lulus dari SMP saya pergi ke STM sementara Angela ke sekolah tinggi. Saya suka bermain di rumah Angela.

Tapi karena saya masih di SMP kelas tiga aku tertarik ketika mereka melihat bibi Pang. Besar tinggi, wajahnya sebenarnya cukup indah, hidung tajam dan bibir bibir seksi. Betis betis kaki besar dan panjang itu juga berbentuk indah. Tapi selama hidup saya, saya belum pernah melihat bibi ini dihiasi sendiri. Bibi Gerejapun berpakaian hanya biasa-biasa saja tanpa make up yang berlebihan. Setiap hari slalu bibi bekerja di dapur memasak. Tante senang saya karena saya suka dapur dan kami mengobrol dengan dia tentang apa pun. Bibi ini benar-benar seorang wanita yang tidak bersalah dan murni hatinya menurut pandangan saya. Tapi bibi ini yang duduk seperti sembarangan dan ini adalah apa yang membuat saya begitu bergairah padanya. Suatu hari saya meIihat bibi mengenakan agak terbuka dan diketiaknya sudah sedikit sobek. Sebagai hasil dari warna hitam tali bra-nya terlihat bahkan sebagian sisi payudaranya putih dan juga tampak hebat. Aku tidak tahan melihat semua ini, sementara tantepun mengabaikannya karena sibuk dengan pekerjaannya. Pada saat itu, tidak ada orang yang ada di dapur tapi saya dan bibi Pang. Beberapa item peluhnya mengalir di wajahnya tanpa henti itu. Leher mengandung terlihat mengkilap oleh keringat. Pemandangan ini yang membangkitkan nafsu birahiku padanya.

Tiba-tiba telepon berdering dan mengatakan kepada saya untuk mengangkat Telefoon bibi. Rupanya suaminya dari kantor, untuk berbicara dengan ibunya. Kemudian bibi Pang datang ke saya, mengambil alih gagang Telefoon berdiri tepat di samping saya dekat dengan payudaranya terbuka yang aku bisa melihat dengan jelas. Kulitnya masih mulus putih ketika ia sudah berusia empat puluh tahun pada waktu itu. Aku tidak bisa membantu hatiku lagi. Sementara berbicara ditelefoon kemudian bibi saya hampir bereaksi perlahan mengusap payudaranya terlihat bagian dari itu dan meremas lembut meremas. Saya merasa baik untuk dapat menyentuh kulit putih. Tante hanya menatapku tapi tidak bereaksi apa-apa dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Aku kembali kembali padanya dan tangan saya menyelinap masuk melalui celah terbuka terus memegang payudaranya dan meremas diperas. Tante terkejut dengan sikap saya berani.
"Anak-anak kecil Ce ngana Ramas Ramas mengapa kami mendapat susu?". Bibi bertanya Ternatenya dialek.
"Tante punya susu itu membuat saya jadi nafsu" kataku dengan hati yang polos, meskipun hati saya berdebar-debar juga.

1 (173)

Tanganku masih meraba-raba payudaranya yang besar. Bahkan ketika datang ke keputingnya dan memintir puting mintir bibi puting mana pun rasanya begitu tegang mengeras dan memanjang. "Adooohh ..!" bibi mengeluh Pang saat ia memerem dan menjunjung matanya. Rupanya ia juga merasa baik untuk bermain tangan ini. Dan kuremas terus gumpalan daging putih yang masih kenyal. Tante Pang semakin mengerang. Aku meraih kepalanya dan mencium bibirnya, meskipun saya masih berciuman bodoh. Gigi bertabrakan dengan gigi bibi, tapi saya cepat tersentak bibirnya lagi. Tante bersandar di kursi menatapku kosong.

Lihat Pang bibi yang telah runtuh seperti petinju ko itu, membuat saya lebih putus asa lagi. Aku mengambil kedua payudara daranya itu dari dalam bra dan kuhisap kedua puting bergantian. Tante Pang semakin merintih dan memekik dengan suara tertahan, membanting kakinya membanting ke lantai. Saya masuk tangan kiri berlawanan terus menembus cd blus dan mengusap bibir vaginanya gosok. Pang bibi menjerit dan memekik tertahan, rupanya bibi mencapai klimaksnya. "Ini .., sudaaah ..!" Pang bibi menangis dengan suara bergetar. Lalu dia bangun seperti marah padaku. Menatapku dengan mata terbelalak. Bibirnya gemetar. "Ce .., ngana kurang ajar!" Lalu ia berdiri dan buru buru untuk masuk dua toketnya saya keluarkan sebelum itu hampir meninggalkan tempat. Aku melihat bibi memasuki kamarnya dan membanting pintu. Aku cepat cepat lari dari itu.

Pada malam hari saya datang ke sana lagi, dengan alasan yang sama untuk pergi untuk melihat Angela. Tante Pang lagi duduk kembali ruang tamu kaki, membaca majalah. Hanya melihat sekilas dan tidak menjawab saya. Mungkin dia masih berpikir marah. Suatu pagi aku tidak pergi ke sekolah, aku masuk melalui sisi dan sudut kedapur saya melihat bibi sedang mencuci pakaian. Kebiasaan ketika celana dalamnya dan mengusap bibinya anak perempuan ngucek dirinya tidak pernah masuk ke dalam mesin cuci. Bibi Pang sedang duduk di bangku kecil sambil membuka kakinya lebar sementara roknya terungkap hingga jauh lebih tua. Mungkin karena tidak ada orang lain di rumah jadi bibi untuk bebas sekali dan bibi Pang terkejut dengan kehadiran tiba-tiba itu. Aku nanya pura pura semua jenis untuk melibatkan dirinya dalam percakapan ketika aku sedang duduk di depannya sampai paha besar mana pun air sabun basah putih sehingga mengkilap. Aku bisa melihat benar-benar membuat saya begitu horny. Pang bibi Entah sadar atau tidak dengan posisinya, ia masih tidak mengubah posisinya, meskipun mata saya melotot tlah menuju selangkangannya. Saya kemudian berdiri dan mendekatinya dan jari saya hampir menyentuh pahanya kulit meremas paha basah dan agak diperas masih lentur, sementara sedikit mulai bergerak gerak di celana.

"Hei ...!" bibi bentak Pang tapi tanpa menatapku. "Mulai lagi ngana memiliki tangan nakal". Tapi nadanya tidak orang marah seperti. Jari saya turun ke dekat selangkangnya dan kusingkap rok panjang. "Aduuuh, ini ngana ya nakal?" Kali ini suaranya naik sedikit, tapi ia masih terus menggosok pakaian. Dan tangan saya tidak bisa lagi ditahan, hampir pecah jari saya ke dalam cd-nya. Aku merasa panjang jembutnya padat dan panjang itu saat memasuki menyusup saya terus sampai saya menemukan lubang. Saya yakin bahwa ini adalah sebuah lubang vagina bibi Pang, hampir jari dan indeks jari tengah saya mendorongnya masuk. Pang bibi berteriak langsung dan menatapku seolah-olah aku tidak berani percaya hal itu dilakukan sejauh ini. Dia berusaha menarik tangan saya, tapi saya memegang kuat kuat. Dengan yang paling sulit saya mendorong dua jari masuk dan menusuk menusuk Pang bibi vaginanya.

Bibi melihatnya memejamkan mata, mendesah tertahan, aku poke kuat nyodok terus sampai jari saya basah dengan cairan yang ada di dalam lubang vagina bibi Pang. Tangannya tergantung lemas di sisinya dan kepalanya ke bawah dan berteriak suaranya dan bernapas cepat. Lalu aku terlihat seperti bibi gila Pang mendesah mengerang sambil menjepit kakinya yang kuat kuat untuk bergabung jari-jari saya terjepit. Beberapa saat kemudian ia terbangun dan mendorong sekuat kuat bahwa aku jatuh ke belakang ke belakang. Lalu dengan cepat ia bangkit dan meninggalkan tempat. Kemudian ia mendengar pintu kamar tidur yang kuat kuat. Saya terkaget kemudian bergegas bergegas dan lari dari itu.

Aku sangat tidak suka di Teng Jadilah, adiknya Angela. Nya sombong dan arogan, tidak seperti Teng Jade Lae atau saudara-saudaranya. Dia dua tahun lebih tua dari saya, sezaman kami tidak ingin bermain dengan dia. Saya berpikir bagaimana jika sampai mereka tahu apa yang saya lakukan untuk mama mana pun mereka?. Dunia akan mengamuk. Karena saya berdarah campuran darah melayu Papua dan Cina mereka.

Selama beberapa hari berikutnya aku tidak berani ke rumah mereka. Tapi hari tidak melihat wajahnya Pang bibi membuat saya merasa sangat sengsara. Sejak kecil saya tidak pernah merasa kasih sayang ibu. Inilah yang membuat saya begitu nakal dan liar.

Waktu sekolah pesta perpisahan saya datang sendirian, karena ayah saya lagi pergi. Aku sangat cemburu melihat teman-teman lain yang menemani orang tua mereka. Mereka berpakaian bagus sementara aku hanya berpakaian ringan. Dan aku tidak datang dari keluarga miskin, hanya ibu tiri saya yang sangat pelit terhadap saya.

Aku melihat Angela disertai papa dan mama, kita sama-sama sebagai lulus ujian. Aku berdiri sendirian dengan kepala tertunduk dan sebelum acara selesai saya sudah lari pertama karena saya merasa itu bukan milik kalangan teman-teman saya bahwa mereka semua benar-benar menikmati hari hari bahagia itu. Selama liburan aku tinggal dengan kakeknya, ayah papa saya. Rumah tepi pantai yang terletak di pinggir pantai. Kadang-kadang saya pergi memancing kakek menangkap ikan bagi kita untuk makan. Tapi hati saya rindu slalu sama bibi Pang.

Akhirnya ayah saya datang, katanya saya terdaftar di mesin STM. Aku benar-benar peduli tentang dia, tapi aku membencinya. Saya tidak punya pilihan lain selain kembali ke rumah itu. Meskipun rumah itu seperti neraka bagi saya, tapi ada bibi Pang tetangga slalu aku merindukan. Akhirnya ketika saya tlah duduk di kelas satu STM, karena saya bisa ceweq anak sekolah kemudian menciptakan sementara saya lupa bibi Pang.

Tapi setelah kelas tiga aku teringat bibi baru yang sama lagi. Rupanya selama ini dia slalu merindukanku, tapi tentu saja ada dapat dinyatakan dengan saya, karena bibi ini adalah wanita yang terjebak oleh norma-norma kehidupan dan tradisi orang-orang Cina. Bahkan, dia tidak bereaksi ketika saya mencoba lagi untuk mendapatkan dekat dengannya, meskipun aku yakin jika dia menyadari gerak gerikku ini. Sebab aku tahu jam dia sendirian di rumah maka saat itulah aku datang kepadanya. Yaitu sekitar 03:00, ketika tidur siang lainnya, tetapi bibi tidak ingin tidur siang. Dia mengatakan dia membiarkan malam ini cepat tertidur.

Ketika saya datang ketika dia lagi sendirian duduk di meja makan sambil membaca majalah, ia menatapku penuh selidik. Setelah salam padanya aku segera datang untuk duduk di dekatnya. Aku bisa mendengar elahan napasnya. "Anak-anak kecil, ngana mau apa-apa lagi?". Sial, ia juga disebut sebagai seorang anak, ketika saya berada di kelas tiga STM. "Aku merindukan bibi yang sama, bibi cantik dan seksi lucu" Aku tersenyum padanya. Tante Pang hanya mendengus dan seperti mengejek saya. "Ce, anak sepanggal ngana, sehingga berani menyentuh sentuhan kita memiliki barang" katanya, menatapku seperti jengkel. "Tapi bibi juga menyukainya?" Aku menjawab tantangan dan menatap matanya. "Tapi ngana kurang ajar pa orang tua, kami sangat tua!" bibi menjawab dengan suara mendesis sengit. "Tante masih muda koq!, Tante masih cukup merangsang, hanya bibi yang tidak merasa" Aku terus menjawab, memegang lengannya. Bibi diam tidak bereaksi ketika meremas lengan pemerasan di bawah ketiak dan satu tangan mengelus pahanya.

Tiba-tiba dia berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Aku berdiri dan cepat tertangkap dengan dan tanpa sadar ketika ia masuk ke kamar mandi, aku akan pergi di .Tante terkejut melihat saya yang hampir menutup pintu. "Ce !, Ngana terlalu baik scallywag, keluar! Kami mo omong kosong!" katanya lembut. Jika memang dia tidak suka bagaimana dia tidak menjerit?. Aku berdiri bersandar pintu dan menatapnya. Wajahnya begitu asam, tapi ternyata dia tidak bisa tahan lagi. Kemudian angkat rokya buru-buru bergegas dan menghapus CD dan segera ia duduk di toilet dengan wajah seperti dorongan.

Aku mendengar bangku besar A rusak jatuh ke lemari dan membuat suara. Suara itu sangat merangsangku. Aku mendekatinya dan mencium bibirnya sambil meremas payudaranya diperas kembali. Kumasukin tangan ke bra-nya, mengeluarkan payudaranya dan saya merokok lagi dengan kuat, hisap kuat. Tante hanya mengerang seperti keenakan, tapi masih biarkan aku terus beraksi. Lalu ia berdiri dan mengambil ciduk ingin menghapus. Tapi aku lebih cepat menyambar gayung dan menimba air, dan saya mengatakan kepada bibi berbalik dan aku adalah orang yang mencebok pantat. Dengan jari-jari saya, saya membersihkan anus dari bangku pit kotoran. Tante hanya mengerang sambil berdiri mengangkang kakinya dan sedikit membungkuk.

Lalu aku berjongkok dan tangan saya memegang pantatnya pantat bibi dan menjulurkan lidah saya menjilati anus lubang bibi Pang nya. Mungkin karena geli bibi sambil terus mengguncang mengerang pantatnya dan mengerang napas berat. "Aduuuhh ..., jadi ngana membuat apa yang kita pa ni ..." terdengar tante Pang mendesah. Aku masih membruca lubang anus dan bibi mulai mengobarkan gairah. Lalu kulucuti berdandan tante praktis Pang telanjang di depan saya. Tangannya disilangkan di depan dadanya yang besar tapi sudah terbembeng, gemetar tubuhnya dan menatapku dengan kebingungan. Aku bersandar di dinding dan meminta agar kakinya terbuka lebar. Tante Pang ikuti menolak permintaan tanpa berdiri seperti orang mengundurkan diri kebingungan.

Mataku melotot Pang bibi melihat seluruh tubuhnya dari atas sampai ujung kaki. Sudah ada beberapa helai uban. Tapi lehernya halus dan kedua payudaranya besar itu tergantung lesu seperti pepaya dengan puting besar dan memanjang gelap. Kontras dengan warna kulit zaitun dan halus membersihkannya. Pada sedikit perut membesar terlihat tanda coretan melesat pernah melahirkan, tampaknya jelas lubang di sekitar pusar dan perut bagian bawah. Paha besar sudah kendur lemak dan hampir menutup selangkangnya mengantung. Jembutnya bulu bulu sangat tebal dan meluas untuk menutupi bagian depan vagina. Tapi secara umum, penampilan Ms Pang masih cukup seksi dan bagus, penis saya sudah mulai bangun.

Aku berjongkok di depannya dan mengungkapkan rambut kemaluannya dan lidah saya mulai membruca vagina bibi Pang. Dimanapun bibir bibi vegynya hancur dan bentuk tak tentu lagi. Labia mayoranya telah diperbesar dan dilipat seperti ayam jenger dan warna kebiru-biruan. Ini dikenal Pang bibi telah melahirkan lima kali. Vaginanya sudah terbuka aperture besar, sekitar tiga sentimeter dengan diameter. Merah dan kesepian. Mungkin lama tidak pernah masuk vagina kontol lagi. Karena tampaknya oom Pang telah loyo.

Di mana pun tampaknya bibi Pang penyerahan total dan penyerahan kepada saya sambil menarik rambut saya kadang-kadang sangat sulit. Tiga sekaligus memasuki jariku menusuk ke dalam lubang vaginanya mana pun berlendir basah. Tante Pang hanya menjerit dan memekik tertahan. Akhirnya datang acara sentuhan menyelesaikan mereka, memasukkan penis saya ke dalam vagina Ms Pang. Rudalku langsung masuk ke tenggelam sampai semuanya tertanam di Pang bibi vaginanya. Sementara bersandar di dinding kedua lengan di leherku dan tangan saya memegang pinggangnya dan aku mulai memompa kuat kuat. Sesak napas napas Pang bibi sementara aku mencium bibirnya sementara keringat membasahi dua tubuh kita. Keringat kami bercampur membuat tubuh kita juga menjadi licin. Sekitar sepuluh menit kemudian bibi Pang tubuh sehingga tegang dan bergetar dengan hebat. Dengan lengan yang kuat di sekitar tanda memekik kuat dan teredam bahwa ia mencapai puncak orgasme. Bahkan air mata keluar, bibi sob sob. Akhirnya saya akan menumpahkan sperma saya ke rahimnya. Kutancapkan penis kuat kuat ke dalam vagina, dan saya tegang untuk sementara tubuh kita tetap terkait erat berpelukan dan keringat mengalir. Aku mengangkat wajahnya, tetapi bibi Pang membungkuk lagi. Mungkin dia malu, hanya bernapas yang masih terus memburu sementara kita masih dalam posisi hubungan seksual. Akhirnya saya mengeluarkan penis saya dari lubang vaginanya dan aku membantunya membersihkan diri dan meletakkan pakaiannya kembali tanpa berkata apa-apa, sebelum keluar masih sempat lagi aku mencium bibirnya bahkan kami berpelukan dengan mesrahnya dan hampir keluar dari itu.

1 (172)

Suatu malam sekitar pukul delapan aku keluar dari rumah dan berjalan di samping rumah mereka. Rumah mereka agak mundur karena halaman depan yang sangat luas, serta halaman belakang nya. Kami melewati dapur, saya terus akan melalui samping rumah mereka sampai aku tiba di belakang rumah mereka. Untuk bebrapa saat aku berdiri di bawah pohon nangka di belakang rumah, melihat ke rumah. Saya melihat bibi itu di dapur, siapa tahu apa lagi yang sibuk. Lalu aku melihat bibi dari buffer pintu, buru buru aku mendekatinya, ia terkejut. "Hei mengapa ngana malam malam ada di sini?". Dia bertanya dengan dialek Ternatenya. Aku tetap jari saya di mulut saya dan memintanya untuk memegang tangannya di bawah pohon nangka dan ia mengikuti dengan bingung tapi diam. "Ngana ingin membuat sesuatu di sini?". tanyanya dengan suara mendesis sambil menatapku aneh. "Tante duduk di sini". Aku menjawab, menunjuk ke bangku panjang yang ada di sana. Kemudian bibi Pang itu duduk di sana dan aku duduk di sampingnya, memegang tangannya dan memeluk pinggangnya. Napas panas terasa ketika saya masih miliknya. Bibir kami erat terjalin. "Saya ingin cuki bibi lagi" kataku pelan mencengkeram tubuh besar itu. "Ce .., ngana ini anak benar-benar gila, ngana masih kecil, adalah bibi begitu tua, mengapa ngana mo pa cuki kita tua jadi bagini?". "Tapi bibi masih cantik dan saya jatuh cinta dengan bibi" kataku sungguh-sungguh untuk meyakinkannya. "Kemudian jika ngana jatuh cinta pa kita, maka ngana mo pa membuat apa yang kita?" Aku tidak menjawab tapi segera kembali kuat menggigit bibirnya. Seperti yang saya lihat di film film biru.

Tante Pang tidak melawan, tapi tidak mengatakan apa-apa seperti pengunduran diri. Dari bibirnya terus turun ke leher saya sementara saya mendengar jilatin dengusannya. Aku menghabiskan toketnya besar dari belakang dasternya dan kusedot selesai kuat untuk puting yang kuat sampai bibi Pang menjerit tertahan dan mengerang hebat. Tampaknya bibi Pang juga mulai horny. Lalu aku menyuruhnya untuk berdiri dan bersandar pohon nangka besar kebatang dengan membuka lebar kainya kedua, kemudian mengangkat roknya dan celana melucuti. Saya suka orang-orang yang benar-benar ahli urusan seks dan penis akhirnya kumasukan ke dalam vagina. Aku dipompa dengan segala kekuatan saya, berdiri memegang pinggulnya. Tante Pang mendengus keras, mendesah dan berteriak sementara tubuh yang besar sehingga tegang dan memelukku erat-erat saat aku menghisap berat bibir dan lidah. Bibi Pang mencapai klimaksnya dengan napas berat. Akhirnya saya keluar. Tubuh kita berdua bermandi keringat bercampur. Saya kuat penis kuat hunjamkan ke bibi vagina Pang sementara penyemprotan sperma ke dalam rahim. Enaaak ..., ini adalah ketiga kalinya saya berhubungan seks dengan seorang wanita.

Kami masih mengandalkan batang pohon nangka untuk sementara dengan napas masih terengah-engah. Kujilati leher bibi Pang basah oleh peluhnya bahwa, meskipun terasa asin tapi aku menyukainya. Tiba-tiba, anak tertua Teng Lae keluar dari pintu dapur. Berjalan melewati kami berdua pada jarak sekitar dua meter. Ia mengambil handuk dijemuran dan kembali ke dalam rumah. Aku memegang mulut bibinya kuat Pang kuat. Untungnya, ada sangat gelap. Tapi kami dua sudah takut mati. Aku membuka bajuku dan menyeka keringat bibi Pang di wajahnya dan seluruh tubuhnya sampai baju saya jadi basah dengan keringat. Kemudian, tanpa berbicara setelah mengambil kembali cd dan bibinya berjalan ke rumah mengabaikan saya lagi. Aku tersenyum puas sambil bersandar di batang pohon nangka.

Besok sore setelah sekolah aku pagar melalui pintu dapur. Suasana tampak sepi hanya bibi pang di dapur. "Selamat siang chi Po bibi sana?" Aku bertanya, tetapi bibi diam tidak menjawab saya. Tidak Menolehpun, mungkin dia marah. Aku mendekati bibi dari belakang dan mencubit pantatnya. Terkejut ia berbalik menatapku seperti marah. "Persetan!" desisnya, menatapku tapi dengan senyum bahagia padaku. Karena tidak ada seorang pun di sana yang tiba-tiba ia meraih lenganku dan kami kembali ke kamar mandi dan akhirnya akan kembali hubungan antara aku dan bibi Pang siang hari bolong itu di kamar mandi rumah mereka. Sejak saat itu aku semakin dekat lagi dengan bibi Pang, dan tentu saja tidak ada yang tahu bahwa kami dua lagi pacaran dengan mesrahnya.

Recent search terms:

  • ngentot tante cina
  • ngentot tante china
  • cerita dewasa tante cina
  • cerita ngentot tante cina
  • www cerita ngentot enci
author