cerita sex dengan tante kesayanganku

4177 views

Itu terjadi kurang dari setahun yang lalu. Tepatnya awal Mei 2003. Panggil saja namaku Roni. Umur saat ini 27 tahun. Dikampungku ada seorang janda 46 tahun, namanya menyebut Tente menulis Ken. Meskipun ia sudah kepala empat dan sudah memiliki 3 anak yang sudah besar, namun tubuhnya masih terlihat bagus dan terawat dengan baik. Ken bibi memiliki wajah cantik dengan rambut sebahu. Kulit putih bersih. Selain itu membuat saya terpesona selama ini adalah bust bibi Ken gemuk luar biasa. Saya kira ukuran 36C payudara. Ditambah pinggul yang fantastis yang dimiliki oleh janda cantik. Ken bibi tubuh indah yang dibuat tidak dapat menahan birahiku dan selalu bermimpi bisa menikmati tubuh padat berisi. Setiap masturbasi, tetangga wajah dan tubuh itu selalu menjadi inspirasi saya.

Itu pagi sudah menunjukkan angka tujuh. Aku sudah siap untuk pergi ke perguruan tinggi. Motor saya berjalan lambat keluar dari gerbang rumah. Jarak aku melihat sosok wanita berjalan sendirian. Mataku secara naluriah terus mengikutinya. Maklum menulis, saya sangat kagum pada tubuh wanita yang berpikir fantastis, meskipun dari belakang. Pinggul dan pantat benar-benar membuat hati saya bergetar. Saat itu saya hanya bertanya-tanya apakah wanita itu bibi Ken. Pada saat yang sama, celana mendapatkan sedikit ramai karena penis saya mulai kompromi alias tidak bisa ngaceng berat.
Perlahan motor saya menunjuk agak lebih dekat untuk memastikan bahwa wanita itu adalah bibi Ken.

"Eh Tante mana Ken bibi. Anda akan pergi?", Kataku.

Ken bibi agak terkejut mendengar suaraku. Tapi ia kemudian tersenyum manis dan membalas sapaanku.

"Um .. Anda Ron. Tante akan ke kantor. Anda ingin pergi ke perguruan tinggi?", Ken bibi bertanya.
"Iya nih tante. Masuk delapan. Jika demikian bagaimana jika bibi saya pertama anter ke kantor? Kebetulan, aku mengambil helm satu lagi," kataku, menawarkan layanan dan harapan bibi Ken tidak menolak ajakanku.
"Jangan membuat saya, Anda akan terlambat ke kampus Anda tahu."

Suara lembut ken bibi dan saat lembut membuat penisku semakin menegang.

"Tidak ada yang benar-benar bibi. Pokoknya saya benar-benar kampus dekat", kataku, mataku selalu mencuri pandang tubuhnya pagi itu bletzer canggung dan celana. Meskipun tertutup oleh pakaian yang rapi, tapi aku masih bisa melihat lekukan payudaranya kebayakan jelas.
"Tepat Roni ya ingin nganterin bibi ke kantor? Jika Anda naik pada bibi sepeda sehingga begitu-begitu", kata Ken bibi saat ia melangkah diboncengan.

Saya agak terkejut karena cara yang bibi membonceng tersebut. Tapi bagaimanapun saya masih menguntungkan karena punggung saya kadang-kadang bisa merasakan
payudara nyeri bibi yang sangat saya kagumi. Terutama ketika melewati gundukan di jalan, rasanya payudara bibi terjebak di belakang saya menambahkan. Itu bibi pagi Ken aku anter sampai ke kantornya. Dan aku segera menuju ke kampus dengan perasaan senang.

1 (224)

Waktu itu hari Sabtu. Kebetulan kuliah libur. Tiba-tiba telepon di sebelah tempat tidurku berdering. Aku segera mengangkat. Dari seluruh suara lembut seorang wanita.

"Bisa bicara dengan Roni?"
"Ya saya sendiri?", Jawabku dengan tanda tanya karena merasa akrab dengan panggilan suara.
"Selamat pagi Roni. Bibi Ken!", Aku benar-benar terkejut campuran.
"Se .. Selamat .. Pa .. Gi tante. Wah tumben nelpon saya. Ada yang bisa saya bantu bibi?", Kataku sedikit gugup.
"Pagi ini ada acara Anda tidak Ron? Jika ada acara untuk tidak datang ke Bibi ya. Bisa kan?" Pinta bibi Keny dari ujung lain.
"Eh .. Dengan senang hati bibi. Kemudian, setelah mandi saya langsung ke bibi," jawab saya. Lalu dia secara naluriah tangan kiri memegang penis saya mulai membengkak karena membayangkan tante Ken.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan menunggu. Met pagi Roni .. Sampai nanti!" Suara Ken adalah bibi lembut sangat menarik bagi saya akhirnya hilang di ambang tepelon sana.

Pagi itu aku benar-benar senang mendengar permintaan Ken bibi untuk datang ke rumahnya. Dan pikiran nglantur di mana-mana. Sementara tanganku masih membelai penisku semakin lama, terus berkembang sambil membayangkan jika yang memegang penis saya itu adalah bibi Ken. Karena keinginan saya telah apung, maka segera saya lampiaskan birahiku dengan masturbasi menggunakan didol boneka montok yang saya beli beberapa bulan yang lalu.

Aku membayangkan aku melakukan hubungan dengan Ken bibi yang sudah telanjang sehingga payudara montok tunggu untuk dikenyut dan diremas. Mulut dan tangan segera menyapu seluruh tubuh boneka.

"Tante ... Tubuh Anda indah. Payudara Montok sekali bibi. Aaah .. Ehs .. Ah", mulutku mulai merancau membayangkan nikmatnya seks dengan Ken bibi.

Karena tidak tahan lagi, segera penisku, aku memasukkannya ke dalam vaginanya didol. Aku mulai bergerak naik dan turun memeluk dan mencium bibir erat boneka yang saya kira sebagai bibi Ken dengan penuh gairah.

"Um .. Ehs .. Nikmat sekali sayang .."
Semakin saya mendayung penis saya dengan cepat.
"Tante .. nikmat sekali memekmu. Aaah .. Tambang keluar sayang ..", mulutku cadel berbicara dengan dirinya sendiri.

Akhirnya tak lama kemudian penisku menyemburkan cairan putih kental ke dalam lubang vagina boneka. Sudah tubuh saya lemas. Setelah beristirahat sejenak, aku kemudian segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dan penisku.
Jam telah menunjuk ke angka 8 lebih 30 menit. Aku sudah selesai mandi dan berpakaian.

"Nah, saatnya untuk pergi ke bibi Ken. Aku sudah tidak tahan melihat kemolekan tubuh pingin kasih sayang dekat", gumamku dalam hati.

Kulangkahkan kakiku menuju Bibi Ken menulis hanya 100 meter dari rumah saya. Sampai rumah janda montok itu, segera saya tekan pintu.

"Ya, untuk sementara", kata suara seorang wanita dari dalam yang tak lain adalah Ken bibi.

Setelah pintu dibuka, mata saya benar-benar dimanjakan oleh Ken bibi menampilkan sosok fantastis dan berdiri tepat di depan saya. Itu jalan pagi bibi mengenakan celana panjang hitam dipadu dengan kemeja ketat atasan merah dengan leher celah sedikit ke bawah. Bagian sehingga jelas yang membatasi kedua payudara montok memang luar biasa. Ken bibi kemudian meminta saya untuk masuk ke dalam rumahnya dan menutup dan mengunci pintu kamar tamu. Saya telah membuat heran dengan apa yang janda.

"Apa bibi, mengapa pintu harus ditutup dan dikunci semua?", Saya bertanya, penasaran.

Senyum indah dari bibir sensual tante Ken mengembang sesaat mendengar pertanyaan saya.

1 (223)

"Oh, hanya untuk menjadi aman. Saya ingin mengajak Anda tepat ke tengah-tengah ruang meskipun ngobrolnya lebih santai sambil menonton TV," jawab Ken bibi sambil memegang tanganku ke dalam ruangan mengundang tengah.

Bahkan sudah sejak pintu depan adalah ayam tegang sejak terangsang oleh penampilan Ken bibi. Bahkan, kali ini tangan lembut menggenggam tanganku, sehingga penis tidak bisa berkompromi karena semakin besar aja. Di tengah-tengah ruangan berbaring karpet biru dan ada dua bantal besar di atas. Sementara tabel di atas telah minuman yang disediakan sirup merah. Kami kemudian duduk berdampingan.

"Ayo Ron mabuk pertama sirupnya", kata bibi saya.
Saya kemudian mengambil gelas dan meminumnya.
"Ron. Anda tidak tahu mengapa saya meminta Anda untuk datang ke sini?" Tanya Ken bibi sementara tangan kanannya ia memegang paha saya untuk membuat saya terkejut dan sedikit gugup.
"Um .. Eng .. Tidak tante", jawabku.
"Tante benar-benar perlu seseorang untuk diajak bicara. Ini dikenal bibi anak-anak memiliki jarang di rumah karena mereka bekerja di luar kota dan harus sering menetap di sana. Itu membuat ya .. Kau tahu dirinya sendiri, bibi kesepian. Kira-kira Anda ingin menjadi teman chatting bibi? Haruskah tidak setiap hari pula ..! ", Kata Ken tente sebagai memohon.

Dalam hati saya senang bahwa kesempatan untuk bertemu dan berdekatan dengan bibi akan terbuka lebar. Angan-angan untuk menikmati pemandangan indah dari tubuh janda tentu akan menjadi kenyataan.

"Jika saya jika itu diperlukan, ya itu OK untuk hanya bibi. Sebenarnya saya senang untuk chatting dengan bibi. Biarkan ada juga teman. Bahkan, setiap hari juga tidak apa yang sebenarnya."

Bibi tersenyum jawaban saya. Akhirnya kami berdua mulai berbicara tentang apa pun sambil menikmati acara di TV. Enjoi semua. Selain itu, bau harum yang tercium dari bibi tubuh membuat imajinasi saya semakin melayang jauh.

"Ron, udara panas hari ini ya? Tante panas ya. Anda terlalu panas atau tidak?" Tanya bibi Ken kali ini sedikit manja.
"Um .. Ya bibi. Sangat panas. Meskipun penggemar sudah dihidupin", kataku, sesekali melirik mata payudara bibi agak membengkak, seolah melompat keluar dari kaos yang menutupinya.

Mata Ken Tante terus menatapku membuat saya sedikit gugup, meskipun birahiku semakin meningkat. Tanpa diduga, bibi tangan memegang kancing baju saya.

"Jika panas dilepaskan aja ya Ron, biar cepet dingin", kata Ken bibi saat membuka satu persatu kancing bajuku, dan melepaskannya sampai aku bertelanjang dada ...

Saya kemudian benar-benar terkejut dengan apa yang bibi saya. Dan aku hanya bisa tertegun diam. Saya menambahkan kagum lagi dengan Ken sikap tente pagi yang meminta saya untuk membantu melepaskan kemeja ketat.

"Ron, bibi tolongin dong. Lepasin baju bibi. Panas habis pula ..", Ken bibi memohon suara manja tapi terkesan menarik.

Dengan sedikit gemetar karena tidak mengharapkan untuk mengalami realitas saya, saya lepas kemeja merah ketat dari tubuh Ken bibi. Dan apa yang aku lihat benar-benar membuat darah saya dan penisku berdesir semakin tegang membesar dan jantung berdebar. Besar bibi payudara Ken jelas di depan mata saya, tanpa bra dibungkus. Dua gunung yang indah milik janda itu tampak kencang dan padat sekali.

"Mengapa Ron. Apakah tiba-tiba diam?" Tanya Ken bibi saya.
"E .. Em .. Tidak apa-apa benar-benar tante", jawabku spontan sambil menundukkan kepalanya.
"Ala .. tidak perlu berpura-pura. Aku tahu apa yang Anda pikirkan selama ini. Tante sering memperhatikan Anda. Roni panjang pingin bibi ini, kan?" Kata bibi, meraih tanganku dan meletakkan tangan saya di kedua payudaranya yang montok.
"Um .. Tante .. Sa .. Ya .. Ee ..", aku suka tidak mampu menyelesaikan kata-kata saya sebagai gugup. Selain itu, tubuh Ken bibi semakin dekat ke tubuh saya.
"Ron sangat disayangkan .. Peras susu saya. Um .. Apakah sesukamu. Mari kita tidak sayang takut. Aku sudah lama ingin menimati kehangatan seorang pria", merajuk bibi Ken sementara membimbing tangan meremas montoknya payudara.

Sementara saraf sudah mulai dapat dikendalikan. Aku bangun keberanian untuk menikmati kesempatan langka, di mana hanya ada di imajinasi saya sendiri. Dengan semangat membara, susu tante Ken aku remas-remas. Sementara mulut dan bibir saya lembut berpagutan saling gairah. Entah bibi ketika celana dan celana off saya, tentu pada saat itu kami berdua memiliki tubuh polos tanpa selembar kainpun menempel tubuh. Permainan kami atau mendapatkan panas. Setelah puas menggigit bibir bibi, mulutku seperti sudah tidak sabar untuk menikmati payudara montok.

"Uuhh ... Aah ..." Tante Ken mendesah mendesah ketika lidahku menjilati ujung puting dadu berbentuk.

Aku memainkan trik puting munjung dan menggoda secara bebas. Sesekali aku menggigit putingnya untuk membuat Tante Ken menggelinjang merasakan kenikmatan. Sementara tangan kanan saya mulai membelai "Vagina" sudah basah. Aku menggosok bibir vagina bibi perlahan sampai napas-napas merangsang lebih keras dari bibir.

1 (222)

"Nik Ron .. .. .. Setelah Maat Yaang sa .. .. .. Puasilah Uuuhh Sayang bibi .. Tubuhku adalah milikmu," suara itu datang dari bibir janda montok.
Aku mengabaikan bibi ucapan karena ia sangat ingin menikmati tubuh moleknya. Perlahan-lahan setelah puas bermain-main dengan payudaranya aku membawa mulutku mulai turun menuju vagina bersih Ken bibi dipertahankan tanpa bulu. Dengan lidah saya mulai menyapu bebas pus sudah basah oleh cairan.

Aku sudah tudak sabar. Kontol saya already'd berdiri ingin merasa pin janda Vagina yang indah dan montok. Akhirnya, saya menaruh penisku perlahan ke dalam celah-celah vagina. Sementara tangan bibi untuk membantu memandu tongkat ke kursus. Aku menekan perlahan dan ...

"Aaah ...", suara yang keluar dari mulut bibi Ken setelah ayam berhasil masuk ke dalam liang senggamanya.

Kupompa penisku naik dan turun gerakan. Mendesah dan erangan yang menggairahkanpun bibi keluar dari mulutnya yang telah nafsu panas.

"Aach .. Ach .. Aah .. Terus sayang .. Lebih dalam .. Lagi .. Aah .. .. Nik Mat ..", tante Ken mulai menikmati permainan.

Aku terus mengayuh penisku sementara mulut saya diperkosa kedua payudara yang montok. Mungkin 20 menit kami berjuang. Aku merasa itu hampir
tidak tahan lagi. Stem pangkal paha hampir menyemprotkan air mani.

"Tante .. Saya hendak keluar .."
"Tahan seb .. Bentar sayang .. Aku jug .. A .. Bagaimana .. Aaach ..", Ken bibi akhirnya tidak bisa berdiri lagi.

Kami juga debit kenikmatan hampir bersamaan. Banyak air mani yang saya semprotkan ke bibi lubang senggama, sampai saat itu kami sudah lelah dan berbaring di atas karpet biru.

"Terima kasih Roni. Tante puas dengan permainan ini. Kamu benar-benar jantan. Kamu melakukan tidur tidak nyeselkan dengan bibi?", Tanyanya padaku.
Aku tersenyum dan mencium kening janda penuh cinta.
"Saya sangat senang bibi. Untuk berpikir bibi memberikan saya kesenangan ini. Karena lama saya melamun dapat menikmati tubuh montok bibi"

Tante Ken tersenyum senang mendengar jawaban saya.

"Sayang Roni. Dari saat ini Anda diperbolehkan untuk tidur dengan bibi kapan saja, karena bibi tubuh sekarang adalah milikmu. Tapi Anda juga berjanji tahu. Jika bibi ingin ... Roni menemani bibi ya.", Kata Ken bibi nanti.

Aku tersenyum dan mengangguk setuju. Dan kami mulai merangsang satu sama lain dan bercinta untuk kedua kalinya. Hari itu adalah hari yang saya tidak pernah bisa melupakan. Karena imajinasi saya bercinta dengan Ken bibi dapat terwujud menjadi kenyataan. Sampai sekarang saya dan bibi Ken masih selalu melakukan aktivitas seksual dengan berbagai variasi. Dan kami sangat senang.

author