cerita sex bercinta dengan tetanggaku part 1

1060 views

Nama saya Andi mahasiswa di sebuah universitas terkenal di Surakarta. Di desa saya sebuah desa di pinggiran Sragen ada seorang gadis, nama Ana. Ana adalah seorang gadis cantik, kuning dengan body yang kokoh didukung postur tinggi membuat semua Adam menelan ludah dibuat. Begitu juga dengan saya diam-diam menaruh hati padanya meskipun usia saya di bawah 5 tahun, tapi rasa ingin tahu dan jiwa saya memiliki lebih besar dari mempertimbangkan perbedaan usia kami. Kebetulan Ms Ana rumah tepat di sebelah rumah saya dan rumah tidak akan memiliki kamar mandi di dalamnya, tapi ada bilik kecil di luar rumah. Suster Ana kamar tepat di sebelah rumah saya, dengan menengah jendela kaca gelap. Ms Ana jika kebiasaan tidur lampu tetap menyala di rumahnya, yang saya tahu ke

Nama saya Andi mahasiswa di sebuah universitas terkenal di Surakarta. Di desa saya sebuah desa di pinggiran Sragen ada seorang gadis, nama Ana. Ana adalah seorang gadis cantik, kuning dengan body yang kokoh didukung postur tinggi membuat semua Adam menelan ludah dibuat. Begitu juga dengan saya diam-diam menaruh hati padanya meskipun usia saya di bawah 5 tahun, tapi rasa ingin tahu dan jiwa saya memiliki lebih besar dari mempertimbangkan perbedaan usia kami. Kebetulan Ms Ana rumah tepat di sebelah rumah saya dan rumah tidak akan memiliki kamar mandi di dalamnya, tapi ada bilik kecil di luar rumah. Suster Ana kamar tepat di sebelah rumah saya, dengan menengah jendela kaca gelap. Ms Ana jika kebiasaan tidur lampu tetap menyala di rumahnya, yang saya tahu kebiasaan buruk saya yang suka mengintip orang tidur, aku sangat senang ketika melihat Suster Ana sedang tidur dan akhirnya aku melakukan masturbasi di depan jendela kamar tidur Suster Ana.

Ketika aku pulang dari kampus melalui kembali sebelum saya membeli rumah karena Sampurna A Mild rokok di warung-warung yang berada di belakang rumah saya. Saat aku melewati bilik Suster Ana, aku melihat sosok familiar yang hanya dibungkus handuk putih bersih, tak lain dari Suster Ana, dan aku menyapa, "Ingin mandi Mbak," sambil memegang perasaan ketidakpastian. "Ya Ndik, ingin mengikuti .." katanya dengan senyum lebar, aku hanya tertawa menanggapi bercanda. Petunjuk dari kedengkian dalam hati saya, saya merasa tubuh membanyangkan jauh Ms Ana bila tidak tertutup sehelai benangpun.

1 (185)

Niat dan bahkan kemudian saya lakukan bahkan dengan gemetar dan detak jantung yang memburu, situasi disengaja ketika ditinggalkan oleh kesuraman sore membuat lebih bebas. Kemudian saya mempelajari situasi di sekitar bilik mandi di mana Ms Ana, setelah memperkirakan keadaan aman aku mulai beroperasi dan merayap lebih dekat ke bilik. Dengan detak jantung memburu aku mencari tempat yang strategis untuk mengintip Ms Ana mandi dan dengan mudah saya menemukan sebuah lubang berukuran cukup besar dari dua jari. Dari lubang saya cukup bebas untuk menikmati keanggunan dan keindahan tubuh Suster Ana dan langsung jantungku berdebar lebih cepat dari sebelumnya, tubuhku gemetar sampai kaki saya tidak bisa menahan berat badan saya. Saya melihat tubuh sehingga gemuk dan padat dengan kulit bersih mulus sehingga merangsang setiap orang nafsu yang melihatnya, apalagi ukuran sepasang panyudara sangat menarik, tan dengan puting coklat melawan setiap orang.

Lalu aku melotot padanya dari atas ke bawah tanpa hilang semilipun. Tepat di antara kaki tangga ada segumpal rambut hitam tebal, begitu indah dan kemudian secara tidak sadar aku mulai menurunkan reitsletingku dan memegang pangkal paha, aku mulai membayangkan jika saya bisa bercinta tubuh Suster Ana yang begitu merangsang birahiku . Merasa darahku mengalir cepat dan dengusan semakin memburu napas ketika saya merasa pangkal paha begitu keras dan berdenyut-denyut. Aku mempercepat gerakan saya kocokan tangan pangkal paha, tanpa sadar aku mendesah melecehkan Ibu Ana keasyikan dari kamar mandi dan saya sangat terkejut terlalu takut ketika melihat Ms Ana melirik lubang di mana aku melihat kamar mandi dan berkata, "Ndik ngintip yaaa ... "Segera jiwaku hilang di suatu tempat digantikan oleh rasa takut dan malu luar biasa. Kemudian saya istirahat dan saya membeli rokok Mild sebelum pulang, dan kemudian saya pergi pada kegiatan saya dihentikan segera.

Setelah saya mulai bermain lagi, aku terkejut untuk kedua kalinya, seakan Ms Ana tahu keberadaan saya lagi. Ia sengaja memamerkan keindahan tubuhnya dengan berliku-liukkan dan meremas-remas payudaranya yang begitu indah dan ia mendesah mendesah kenikmatan. Sementara itu juga aku menarik pangkal paha dan kocok kuat-kuat. Permainan melihat di acara Suster Ana, aku sangat senang aku merasa seperti semburan di ruang tapi ada rasa takut dan malu. Paksa Aku hanya bisa melihat dari lubangtempatku mengintip.

Kemudian Suster Ana mulai meraba-raba seluruh tubuhnya dengan tangan lembut dengan ayunan pinggulnya, ia berhenti kanan tepat di liang perempuan dan mulai membelai bibir kemaluannya sendiri sementara tangan yang lain ke bibirnya di insert. Lalu jari-jarinya mulai dipermainkan di atas kemaluannya begitu menantang untuk posisi satu kaki diangkat di atas bak mandi, menimbulkan kedewasaan sangat merangsang. Saya merasa ada sesuatu yang mendesak keluar di selangkangan dan akhirnya, mendesah pelan, "Aahhkkkhh ..." aku mengalami puncak kepuasan dengan masturbasi sambil menonton Ibu Ana masturbasi. Beberapa saat kemudian aku juga mendengar Ms Ana mendesah pelan, "Oohhh .. Aaahh .." Dia juga mencapai puncak ekstasi dan akhirnya aku meninggalkan tempat dengan perasaan kepuasan.

Suatu sore aku berlari ke Suster Ana.
"Di sini Ndik," katanya menutup, saya hanya mengikuti kemauannya, terbersit perasaan aneh dalam pikiran saya.
"Di mana Anda akan di gini sore," katanya kemudian.
"Ingin pergi keluar Mbak, beli rokok .." jawabku singkat.
"Di sini aja disertai Ibu Ana mengobrol, Ms Ana kesepian ya .." kata Suster Ana.
Aku lembut berlangsung tepat di depan Suster Ana, dengan maksud bahwa saya bebas menatap paha mulus milik Ms Ana yang kebetulan memakai rok Mini di atas lutut.
"Hanya apa yang ada di mana, Mbak .." Aku mulai menyelidik.
"Mr ibu yang sama pergi ke rumah nenek," ia tersenyum curiga.
"Benar-benar ada Mbak acara," Aku bertanya lagi, sambil melirik paha halus seperti sutra ketika rok mini itu semakin tertarik ke atas.
Dengan senyum manis dia menjawab, "Nenek sakit Ndik, baik ... jadi saya harus menunggu di rumah mereka sendiri."
Aku hanya mengangguk.
"Eh ... Ndik ke yuk, di luar banyak angin," katanya.
"Mbak punya CD yang baik, Anda tahu," katanya lagi.

Tanpa menunggu persetujuan saya dia langsung masuk ke dalam, menuju TV di atasnya ada
VCD player dan aku hanya mengikutinya dari belakang, basa-basi saya bertanya, "apa film Mbak .."
Dia menyalakan VCD, Ms Ana menjawab, "Titanic Ndik, Anda pernah melihat."
Aku berbohong menjawab, "Tidak Bu, baik film yang ya .."
Ibu Ana hanya mengangguk pertanyaan saya.

1 (184)

Setelah film diputar, tanpa menyadari aku tertidur sampai larut malam dan entah bagaimana Ibu Ana juga tidak membangunkanku. Aku melihat arloji yang tergantung di dinding di atas TV menunjukkan tepat 22:00. Aku mengusir melihat-lihat ruangan yang terlihat sepi dan di sana saya bertemu Suster Ana. Pikiranku mulai dirasuki pikiran buruk dan saya pikir semua tidur di sini aja. Memang, saya sering tidur di rumah teman dan orang tua saya sudah akrab dengan kebiasaan saya, saya tidak akan khawatir jika orang tua saya mencari saya. Waktu berlalu, mataku ditutup karena tidak bisa memulai pikiran dan perasaan kacau, pikiran mendominasi paling sesat indra saya dan sadar niat untuk memasuki ruang Ms. Ana. Saya terkejut dan berburu napas, hati saya berdetak kencang ketika melihat pintu kamar Ibu Ana terbuka lebar dan di tempat tidur berbaring sosok yang indah dengan posisi terlentang dengan kaki ditekuk ke atas setengah sepasang paha lutut untuk melihat gempal dan di tengah CD selakangan terlihat jelas terlihat putih berkembang gundukan yang ada seakan penuh dengan isi untuk keluar.

Lelakiku nafsu darah dan tidak lagi terkendali, kuberanikan mendekati tubuh hanya dibungkus kain tipis dan lembut menyentuh paha putih, menyeka dari bawah ke atas dan aku terkejut ketika ada gerakan pada tubuh Suster Ana dan aku bersembunyi di bawah di bawah tidur, Sesaat kemudian saya kembali keluar dan melihat keadaan posisi tidur yang menambahkan Ms Ana darah berdesir lelakiku besar, dengan kaki menyebar posisi terbuka lebar seakan menantang untuk segera memasukkan alat kelamin pria.

Aku mulai lebih berani dan mulai naik ke atas tempat tidur, tanpa berpikir aku mulai menjilati kaki Suster Ana dari bawah ke atas untuk paha tanpa hilang bagian semilipun. Segera sebuah kenikmatan menggelinjang dan saya tidak peduli tentang rasa takut dan malu terhadap Ibu Ana. Di selangkangan, aku merasa kepalaku membelai tangan halus dan saya tidak akan mengabaikan mereka tangan. Seiring waktu itu tumbuh tangan kuat menekan di atas kepala saya kembali ke Suster kemaluan Ana masih terbukus CD putih. Dia menggoyangkan pantatnya, tanpa berpikir aku menjilat bibirnya ayam sampai CD kering asli untuk basah debit dari betina liang Ms Ana dan dicampur dengan air liur saya.

Aku mulai mengungkap penutup lubang dan menjilati bibir kelamin perempuan memerah dan Suster Ana mulai berlendir Ms Ana terbangun dan tersentak. Secara naluriah, dia menampar wajahku dua kali dan mendorong saya keras sampai saya jatuh ke belakang dan menyadari ia tidak berteriak terlalu keras, "Anda Ndik ngapaiiin ..." dengan gemetar dan dicampur perasaan antara malu dan takut, "Maafkan aku Mbak , aku keluar dari kontrol, "terbata-bata dan aku meninggalkan ruangan. Dengan berat hati saya membuang pantatku ke sofa biru lusuh. Tak lama setelah itu Ms Ana mendekati saya, saya tergagap mengulangi permintaan maaf saya, "Ma..ma..afkan ... Saya Mbak .." Suster Ana hanya diam tahu apa yang dipikirkan dan dia duduk tepat di sebelah saya. Sesaat keheningan menyelimuti kami berdua dan kami juga sibuk dengan pikiran kami masing-masing untuk tidur.

Pagi itu aku bangun, aku melihat Suster Ana tidak lagi di sisiku dan sesaat kemudian memcium hidung aroma yang memaksa gemuruh perut saya dikeluarkan hebat. Ibu Ana adalah seorang ahli di bidang memasak. Tiba-tiba saya mendengar bisikan merdu nama saya, "Ndik ayo makan dulu, Mbak sudah siapin sarapan ya," dengan nada lembut seolah-olah tidak ada yang terjadi tadi malam adalah apa-apa. "Ya Bu, aku cuci muka dulu," aku menjawab dengan malas.

Sesaat kemudian kami telah melahap hidangan buatan sendiri Suster Ana ada di atas meja, piring begitu lezat sampai ada yang tersisa, semua menghabiskan. Setelah itu seperti biasa, aku menyalakan rokok Mild sayangku, "Maaf Bu Ndik tadi malam ya," Suster Ana memecah keheningan yang kita buat.
"Saya seharusnya tidak kasar kepada Anda Ndik," tambahnya.
Saya sangat bingung dan menebak apa yang Anda maksud Ms Ana, maka saya akan menjawab,
"Saya harus meminta maaf kepada Bu, aku salah," kataku dengan kepala tertunduk.
"Tidak Ndik .. aku salah, aku terlalu kasar untuk Anda," bisik Suster Ana.
Saya juga mulai menangkap mana arah kata-kata Suster Ana.
"Bagaimana bisa begitu Mbak, kan aku salah," kataku memancing.
"Tidak Ndik .. aku salah," katanya dengan tenang, "Karena aku ceroboh, tapi tidak benar-benar Ndik pa-pa."
Saya terkejut mendengar jawaban itu.

"Ndik, Ms Ana nanya tidak," bisik Ibu Ana mesra.
Dengan tersenyum saya menjawab, "Mengapa tidak ya."
Dengan ragu-ragu Suster Ana melanjutkan dengan mengatakan, "Kamu punya pacar Ndik .." suara lembut sekali lebih seperti bisikan.
"Yah sudah, tapi sekarang sudah bubaran Mbak. "Saya melihat ada perubahan dalam menghadapi Suster Ana.
"Kenapa Ndik," dan saya akan mulai bercerita tentang hubungan saya dengan teman-teman sekolah menengah saya Maria melarikan diri dengan pria lain beberapa bulan yang lalu, Ibu Ana adalah mendengarkan cerita pemotongan sesekali.

"Jika Ibu Ana sudah punya pacar belum," tanyaku dengan harapan.
"Tidak tuh Ndik, lagian yang ingin pembantu lama yang sama seperti saya," jawabnya dengan wajah tertutup awan.
"Kau tidak mencari pacar lagi Ndik," lanjut Ms. Ana.
Dengan mendengus lembut aku menjawab, "Aku takut kejadian itu terulang, takut kehilangan lagi."
Dengan senyum manis dia mendekati saya dan membelai rambutku dengan lembut, "Anda Kasian Andi .." kemudian Ibu Ana dengan lembut mencium keningku, aku merasa ada sepasang lembut, benda hangat terjebak di belakang saya. Sesaat kemudian aku merasa melayang di suatu tempat, tidak ada getaran asing tidak merasa begitu jauh.

"Mbak Ndik mungkin menjadi pengganti Maria," bisik Suster Ana mesra.
Saya bingung, perasaan berkecamuk antara senang dan takut, "Andik takut Mbak," kataku pelan.
"Mbak Ndik tidak akan meninggalkan Anda, percayalah," dengan ciuman lembut.
"Bener Mbak, Mbak Ana bersumpah tidak akan meninggalkan Andik," bisikku spontan karena gembira.
Ibu Ana mengangguk dengan senyum manis, memeluk erat seolah-olah kita juga akan pernah lepas lagi.

1 (182)

Setelah itu kami menonton film romantis yang banyak adegan yang tidak sadar membuat kita pelukan, yang membuat berdiri pangkal paha. Entah disengaja atau tidak, maka Suster Ana mulai meletakkan kepalanya di pangkuan saya dan saya mencoba untuk menjaga jiwa saya sekeras mungkin tapi mungkin Ms. Ana mulai menyadarinya.
"Gerak Ndik terus pula mengapa Anda ya lelah."
Dengan malu aku menjawab, "Eh ... tidak ada Mbak, bukan Andik seperti benar-benar."
Ibu Ana tersenyum, "Tapi bagaimana gerakan terus Ndik .."
Aku mulai kebingungan, "Eh .. anu benar."
Ibu Anak mengatakan, "Apa Ndik, hanya ingin tahu."

Kemudian Ibu Ana bangun dari pangkuanku dan mulai memeriksa apa yang bergerak di bawah kepalanya dan dia tersenyum manis, tertawa, "Hii .. oh .. itu untuk terakhir yang bergerak," tanpa canggung lagi objek Ms Ana membelai telah bergerak di dalam celana saya dan saya tidak bisa menolak mendapatkan nafsu berkecamuk di dada saya. Kuberanikan diri, tanganku membelai wajahnya yang cantik dan Ms Ana sebagai menikmati belaian sampai ia memejamkan mata dan bibir sensual terbuka sedikit karena menunggu ciuman dari laki-laki. Tanpa pikir panjang, aku menyentuh bibirku ke bibir Ms Ana dan saya mulai diperkosa bibir merah bibir pecah-pecah dan saling kami hancur. Saya sangat terkejut ketika Ibu Ana memainkan lidahnya di mulut saya dan lidah saya tampaknya ditarik ke dalam mulutnya, kemudian tangan kiri memegang tangan saya dan Ms Ana dibimbingnya ke belahan dada yang membengkak dan tangannya yang lain ia sudah sibuk bermain pangkal paha. Aku mulai berani meremas payudaranya dan Ms. Anapun menggelinjang kenikmatan, "Te..rus ... Ndik Aaahh ..." Kemudian dengan tangan yang lain kuelus paha putih lembut halus Ms Ana, semakin ke atas.

Tiba-tiba aku dikejutkan Ms Ana awalnya tangan berada di luar celana dan sekarang mulai berani membuka reitsletingku dan pecah menjadi potongan-potongan zakarku meremas-remas, mengatakan, "Terlalu besar juga ya .. Anda .." Aku mulai berani bermain dengan alat kelamin Ms Ana yang masih terbungkus CD dan dia semakin menggeliat seperti cacing kepanasan, "tulis freelance Aaahh Ndik .." Saat itu CD yang melindungi bagian penting Ms Ana telah membanting di lantai, dan aku mulai bermain daging di liang senggama Suster Ana. "Aaahhh enak, lezat Ndik masukkan Ndik menulis," jari-jari saya mulai masuk lebih dalam, ternyata Suster Ana sudah tidak perawan lagi, miliknya agak longgar dan jariku sehingga dengan mudah ke dalam liang perempuan.

Satu per satu pakaian tubuh kita menerjang ke lantai sampai kami berdua polos tanpa jahitan. Ibu Ana langsung memegang batang kemaluanku yang telah membesar dan tegak berdiri, kemudian segera meremas dan mencium. Aku hanya bisa menutup mata merasakan kenikmatan yang diberikan saat Ms Ana bibir lembut mencium batang pangkal paha sampai basah dengan air liur hangat. Maka itu lidah hangat menjilati menyebabkan kesenangan yang tidak dapat dijelaskan. Tidak puas menjilati batang kemaluanku, Ms Ana memasukkan batang kemaluanku ke mulut sensual menghilang dalam setengah, refleks pantat kugoyangkan bolak-balik perlahan, memegang Ms Ana rambut hitam dan lembut yang menambah gairah seksual saya dan aroma harum yang membuat saya lebih terangsang.

Setelah puas, Ms Ana melemparkan pantat di sofa. Saya juga memahami posisi kaki dan Suster Ana mengangkang langkah kedua di pundak saya, saya langsung mencium tangga paha dari bawah ke atas. Ibu Ana menggelinjang keenakan, "Aaahhh ..." desahan kenikmatan yang membuat saya lebih bergairah dan bibir pecah-pecah langsung ayam merah kujilati sampai basah oleh air liur dan cairan dari kenikmatan Suster Ana liang.

Mataku melebar saat melihat sekitar bibirnya kesenangan bebuluan ditumbuhi halus dan padat seperti rawa di tengah ada pulau merah. Tanganku mulai beraksi berpisah bebuluan tumbuh berat di tepi lubang kewanitaan, begitu indah dan merangsang liang surga Ms Ana ketika klitoris yang memerah mencuat dan langsung kujilati untuk Ms Ana meronta-ronta kenikmatan dan tangan Ms Ana memegang kepala saya dan mendorong lebih ke base kedua pinggul menggoyanggoyangkan sampai paha sementara aku kesulitan bernapas. Hanya tangan meremas-remas dan memutar puting yang sulit untuk menambah kenikmatan kepada Ibu Ana.

"Ndik .. sudah ... aaahhh, masukkan .. ajaaa .. ooohh ..." Aku berdiri dan bersiap-siap untuk memasuki batang kemaluanku ke dalam lubang senggama Suster Ana. Ms Ana posisi begitu menantang dengan kedua kaki mengangkang hingga ayam merah mengkilap dan menonjol clit membuat saya lebih bersemangat untuk bercinta ya tubuh seksi Ana dan halus itu. Perlahan tapi pasti, batang kemaluanku basah dan tegak menyelinap ke dalam lubang menganga kewanitaan yang telah melihat ke depan untuk kenikmatan surgawi. Setelah batang pangkal paha set kami secara bersamaan melenguh kenikmatan, "Aaahh ..." dan mulai pinggul kugoyangkan perlahan maju mundur, seperti lalat ke ruang angkasa kenikmatan tiada tara kami meneguk bersama-sama. Kami mulai menggigit bibir masing-masing dan lidah Suster Ana mulai bermain di dinding rongga mulut saya, begitu lezat dan hanggat. Ms Ana lubang senggama sudah diisi dengan lendir kenikmatan bahkan kemudian mulai menyebabkan kebisingan yang dapat meningkatkan dorongan seks kami berdua. Kamipun tubuh bermandikan keringat.

Tiba-tiba ada panggilan jeritan Suster Ana. "Aaaan ... Anaaa .." Kami sangat terkejut, bingung dan grogi dengan bergegas kami memungut pakaian yang berserakan di lantai dan menempatkan mereka pada. Tanpa sadar satu celana kami diambil, saya memakai CD Suster Ana dan Suster Ana juga memakai CD saya. Lalu aku pergi keluar dari pintu belakang dan Ms Ana membuka pintu untuk ayah dan ibu.

Keesokan harinya aku berniat untuk mengembalikan CD milik Ms Ana dan mengambil CD saya kemarin bertukar. Aku berjalan melalui lorong sempit antara rumah dan rumah Ibu Ana. Saya melihat Suster Ana sedang mencuci pakaian di dekat sumur di belakang rumah saya. Setelah itu aman, aku mendekati Suster Ana pakaian dingin mencuci termasuk CD saya kemarin bertukar. Sambil merokok sampurna A Mild, "Mbak nih CD kemarin bercampur," sambil duduk di bibir sumur, sekilas kami bertatap muka dan kami secara bersamaan tertawa, "Haa .. Haaaa ... "ingat apa yang terjadi kemarin itu sangat lucu. Setelah tawa kami mereda, aku membuka percakapan, "Mbak ketika bermain lagi, kemarin tidak puas." Dengan senyum manis, "Apakah Anda ingin lebih Ndik, sekarang juga diperbolehkan .." Saya sangat senang ketika Ibu Ana posisi membungkuk mengenakan daster hinggga tidur dan melanjutkan lututnya. "Benar-benar ibu Mbak Ana pergi ke ladang, Mbak," sambil menempelkan pangkal paha mulai mengeras menjadi ya ass Ana. "Eh ... eh tidak ada di sini Ndik, entar diliat orang bisa memiliki lebih buruk."

Kemudian Ibu Ana membawa saya ke kamar mandi, sesaat kemudian di kamar mandi kami sudah memeluk dan seperti neraka saya langsung mencium dan menjilat leher Suster Ana putih. "Ohhh neraka Ndik baget tidak sabar," ia melenguh Ms. Ana berbisik pelan. "Kan kemarin terganggu Mbak." Setelah puas mencium leher saya mulai mencium ya Ana bibir merah merekah, tangan saya mulai meremas bukit start kedua dan mematahkan sisi lain beroperasi di Suster kemaluan Ana yang masih terbungkus CD dan tangan Suster lembut Ana mulai merayap di dalam celanaku, memainkan batang kemaluanku mulai tegak dan berdenyut-denyut.

Sesaat kemudian kami mulai pakaian berserakan di lantai kamar mandi hingga tubuh kita polos tanpa sehelai benangpun. Tubuh ms Ana sangat seksi dan menarik itu mulai kujilati mulai dari bibir turun ke leher dan berhenti tepat di tengah-tengah kedua payudara matang dengan ukuran yang cukup besar. Kemudian meremas-remas belahan dada kecoklatan meninggalkan puting itu tegak dan keras kujilati sampai. "Uhhh .. ahhh .. terus Ndik," Suster Ana melenguh nikmat saat mengeras puting itu saya sedikit dan kupelintir menggunakan gigi depan saya. "Aaahhh .. Mbak baik .." Mbak Anapun mengocok dan meremas sampai berdenyut batang kemaluanku yang besar.

Lalu aku duduk di bibir bak mandi dan Suster Ana mulai memainkan batang kemaluanku dengan menyeret cara. "Ahhh .. Uhhhhh .." tangan halus kemudian dengan lembut menekan zakarku buah dan mulai menjilati bibirnya batang pangkal paha. Terasa baik dan hangat ketika lidah menyentuh lubang Suster Ana urin dan air liur masuk ke dalamnya. Setelah menjilati puas, bibir Suster Ana mulai menghisap batang kemaluanku ke dalam mulut. "Aahhh ... uuuhhff ..." Mbak Ana menjilat lidah vagina di mulutnya, tangan memegang rambut lembut dan harum yang menambah kegembiraan sambil menurunkan kepala Ms Ana lebih untuk membendung pangkal paha ke dalam mulut.

"Gantian dong Ndik," Suster Ana mengaku secara bergantian diminta untuk memberikan kesenangan padanya. Kemudian saya bermain baik puting Ms Ana, mulutku mulai bergerak ke bawah menuju selakangan yang banyak ditumbuhi bebuluan yang halus dan padat. Ibu Anapun tanpa perintah langsung mengangkangkan kedua kaki hingga kemaluannya begitu merangsang indah setiap nafsu laki-laki tampak kemerahan dan clitorisnya menonjol, saya akan menjilat klitoris yang kain kirmizi up berlendir dan membasahi bibir kemaluan Suster Ana. "Aaahhh ... Aaahh ... terus ... buruk .." Suster Ana menggelinjang besar dengan memegang kepala saya, tangan ditekan lebih dalam lagi.

1 (181)

Setelah cekungan kanal kenikmatan Ana mulai basah dengan cairan yang mengkilap dan dicampur dengan air liur, maka saya menempatkan dua jari ke dalam betina liang Ms Ana dan saya bermain bolak-balik sampai Ms. Ana menggelinjang besar dan tidak tahan lagi. "Ndik .. ooohh .. ufff Cepat masuk aja .." Dengan posisi berdiri dan kaki berikutnya dinaikkan ke atas bak mandi bibir, Suster Ana mulai menceritakan insert batang pangkal paha ke liang senggamanya yang telah menunggu pangkal paha hujaman. Lalu aku memegang batang pangkal paha dan mulai memasukkan ke dalam kewanitaan Ms Ana liang. "Aahhh ..." kita secara bersamaan mengeluh kenikmatan, pinggul perlahan kuayunkan bolak-balik dan Ms. Ana diikuti memutar-mutar pinggul sehingga batang pangkal paha seperti daging hidup mengisap dan meremas menyebabkan kesenangan tak tertandingi. Lalu aku mencium bibir Ms Ana dan meremas payudaranya, gemuk sampai Ms Ana menutup matanya terus kenikmatan. "Ahhh ... uhhh ..." Mbak Ana melenguh dan berbisik, "Lebih kenceng lagi Ndik." Lalu aku lebih mempercepat gerakan pantat saya untuk menyebabkan suara berlumpur, "Jreb crak .. .. .. jreb jreb ..." suara yang menambah gairah seks sampai kita bermandikan keringat.

Setelah bosan dengan posisi itu, posisi perubahan Ms. Ana dengan membungkuk, tangannya berpegangan pada bibir bak mandi kemudian aku memasukkan batang kemaluanku dari belakang. Terasa baik sekali ketika batang kemaluanku ke dalam lubang senggama Suster Ana. Merasa pinggul empuk lebih sempit dan terhambat. Kemudian tangan memegang leher Suster Ana dan sisi lain meremas putingnya menggantung. "... Ahhh baik Uuuhhh Ndik," dan saya mendapatkan pantatku mempercepat gerakan. "Uuuhhh .. uuuhhh Ndik, Mbak mau keluar," Aku akan merasa dinding Suster kemaluan Ana mulai menegang dan berdenyut serta batang pangkal paha mulai berdenyut besar. "Uuuhhhk .. aahh .. aku juga Mbak .." Kemudian tubuh Suster Ana menegang dan mempercepat bergoyang pinggul dan sesaat kemudian dia mencapai orgasme, "Aaahh ... uuuhh ..." Rasanya cair hangat membasahi batang kemaluanku dan bahkan kemudian mendapatkan membecek decakan suara "Jreeb ... crak ... jreb .." Saya tidak tahan merasakan sesuatu segumpalan akan keluar dari kencing lubang. "Aaahhh ... ooohhh ... Mbak Anaaa ..." Terasa longgar semua tulang-tulangku, begitu lelah. Aku akan tetap di atas gemuk Ms. Ana. Lalu aku mencium lehernya dan mulut Ms Ana, "Terima kasih Mbak, Mbak Ana besar .." Mbak Anapun hanya tersenyum manis.

Setelah kejadian itu, saya dan Suster Ana selalu melakukan hubungan seks jika kita ingin menyajikan dan kebetulan tepat tanggal 12 Agustus 2000 Suster Ana bulan terlambat, tapi untungnya pada November 4, 2000 Suster Ana mengalami keguguran ketika kita telah sepakat untuk membuka kami rahasia pada kedua orang tua tapi niat kami dibatalkan ketika keguguran terjadi dan kami masih selalu melakukan hubungan seks sampai sekarang. Rahasia ini hanya kami berdua tahu hingga saya kirimkan cerita ini. Kami berencana di awal tahun 2001 akan melaksanakan pernikahan, kami meminta restu Anda untuk pembaca mudah-mudahan kita dapat membangun keluarga bahagia dan tak terlihat.

biasaan buruk saya yang suka mengintip orang tidur, aku sangat senang ketika melihat Suster Ana sedang tidur dan akhirnya aku melakukan masturbasi di depan jendela kamar tidur Suster Ana.

Ketika aku pulang dari kampus melalui kembali sebelum saya membeli rumah karena Sampurna A Mild rokok di warung-warung yang berada di belakang rumah saya. Saat aku melewati bilik Suster Ana, aku melihat sosok familiar yang hanya dibungkus handuk putih bersih, tak lain dari Suster Ana, dan aku menyapa, "Ingin mandi Mbak," sambil memegang perasaan ketidakpastian. "Ya Ndik, ingin mengikuti .." katanya dengan senyum lebar, aku hanya tertawa menanggapi bercanda. Petunjuk dari kedengkian dalam hati saya, saya merasa tubuh membanyangkan jauh Ms Ana bila tidak tertutup sehelai benangpun.

Niat dan bahkan kemudian saya lakukan bahkan dengan gemetar dan detak jantung yang memburu, situasi disengaja ketika ditinggalkan oleh kesuraman sore membuat lebih bebas. Kemudian saya mempelajari situasi di sekitar bilik mandi di mana Ms Ana, setelah memperkirakan keadaan aman aku mulai beroperasi dan merayap lebih dekat ke bilik. Dengan detak jantung memburu aku mencari tempat yang strategis untuk mengintip Ms Ana mandi dan dengan mudah saya menemukan sebuah lubang berukuran cukup besar dari dua jari. Dari lubang saya cukup bebas untuk menikmati keanggunan dan keindahan tubuh Suster Ana dan langsung jantungku berdebar lebih cepat dari sebelumnya, tubuhku gemetar sampai kaki saya tidak bisa menahan berat badan saya. Saya melihat tubuh sehingga gemuk dan padat dengan kulit bersih mulus sehingga merangsang setiap orang nafsu yang melihatnya, apalagi ukuran sepasang panyudara sangat menarik, tan dengan puting coklat melawan setiap orang.

1 (180)

Lalu aku melotot padanya dari atas ke bawah tanpa hilang semilipun. Tepat di antara kaki tangga ada segumpal rambut hitam tebal, begitu indah dan kemudian secara tidak sadar aku mulai menurunkan reitsletingku dan memegang pangkal paha, aku mulai membayangkan jika saya bisa bercinta tubuh Suster Ana yang begitu merangsang birahiku . Merasa darahku mengalir cepat dan dengusan semakin memburu napas ketika saya merasa pangkal paha begitu keras dan berdenyut-denyut. Aku mempercepat gerakan saya kocokan tangan pangkal paha, tanpa sadar aku mendesah melecehkan Ibu Ana keasyikan dari kamar mandi dan saya sangat terkejut terlalu takut ketika melihat Ms Ana melirik lubang di mana aku melihat kamar mandi dan berkata, "Ndik ngintip yaaa ... "Segera jiwaku hilang di suatu tempat digantikan oleh rasa takut dan malu luar biasa. Kemudian saya istirahat dan saya membeli rokok Mild sebelum pulang, dan kemudian saya pergi pada kegiatan saya dihentikan segera.

Setelah saya mulai bermain lagi, aku terkejut untuk kedua kalinya, seakan Ms Ana tahu keberadaan saya lagi. Ia sengaja memamerkan keindahan tubuhnya dengan berliku-liukkan dan meremas-remas payudaranya yang begitu indah dan ia mendesah mendesah kenikmatan. Sementara itu juga aku menarik pangkal paha dan kocok kuat-kuat. Permainan melihat di acara Suster Ana, aku sangat senang aku merasa seperti semburan di ruang tapi ada rasa takut dan malu. Paksa Aku hanya bisa melihat dari lubangtempatku mengintip.

Kemudian Suster Ana mulai meraba-raba seluruh tubuhnya dengan tangan lembut dengan ayunan pinggulnya, ia berhenti kanan tepat di liang perempuan dan mulai membelai bibir kemaluannya sendiri sementara tangan yang lain ke bibirnya di insert. Lalu jari-jarinya mulai dipermainkan di atas kemaluannya begitu menantang untuk posisi satu kaki diangkat di atas bak mandi, menimbulkan kedewasaan sangat merangsang. Saya merasa ada sesuatu yang mendesak keluar di selangkangan dan akhirnya, mendesah pelan, "Aahhkkkhh ..." aku mengalami puncak kepuasan dengan masturbasi sambil menonton Ibu Ana masturbasi. Beberapa saat kemudian aku juga mendengar Ms Ana mendesah pelan, "Oohhh .. Aaahh .." Dia juga mencapai puncak ekstasi dan akhirnya aku meninggalkan tempat dengan perasaan kepuasan.

 

author