CERITA PANAS MERTUAKU YANG BAHENOL DAN SEKSI

3462 views

CERITA PANAS MERTUAKU YANG BAHENOL DAN SEKSI

CERITA PANAS MERTUAKU YANG BAHENOL DAN SEKSI Willy nama saya, usia saya 26 tahun. Saya bekerja sebagai karyawan di staf administrasi di salah satu perusahaan swasta di Bandung. Saya sudah menikah dan punya anak. Cerita ini adalah sisi gelap masa lalu kehidupan seks saya yang kuumbar pada keluarga istri saya, ibunya tidak lain adalah saudara ipar nya juga.

3s (9)

Sebenarnya sebelum menikaHPun pengalaman seks saya cukup bagus, tapi biarkan saya jadi saya tidak berani main ke lokalisasi bahkan seindah pacarnya, karena aku takut penyakit tertular menular seksual. Tujuan saya adalah biasanya para wanita yang bukan pekerja seks seperti pembantu rumah tangga atau pengasuh anak untuk warteg pelayan, tentu saja yang memenuhi syarat sebagai gemuk berbody, menghadapi cukup indah, dan sebagainya. Tapi kali ini hal-hal yang saya alami cukup unik dan itulah mengapa saya ingin memberitahu masyarakat dari situs ini. keluarga terdiri dari ibu istri saya tidak lain adalah mertuaku. Namanya Heny, dia hanya 38 tahun, lahir pada tahun 1964. Mertuaku yang peracik jamu ini adalah istri ketiga dari bupati di kampungya perkawinan yang menghasilkan tiga anak. Cheny anak pertama, berusia 24 tahun, bekerja di salah satu supermarket di Bandung, kedua Venny yang menjadi istriku, 22 tahun, seorang karyawan di sebuah perusahaan swasta dan ketiga Nony ini berusia masih 20 tahun, baru lulus dari sekolah tinggi dan masih menganggur.
Ini adalah wanita ketiga yang pernah menjadi seksualitas makanan. Mertuaku biasanya memanggil Mama saya pindah ke Melbourne setelah suaminya meninggal dan anak tinggal di rumah dari istri pertama suaminya. Sebenarnya, suaminya memiliki kekayaan yang cukup tetapi karena saya di-hukum pernikahan di bawah tangan, jadi dia tidak mendapatkan apa-apa warisan tetapi perhiasan dari suaminya. Karena ada perselisihan, mertuaku dan ketiga anaknya pindah dari rumah dan memulai bisnis akan membawa penjual obat untuk menyediakan bagi ketiga anaknya. Namun, karena sekarang dia merasa tidak memiliki apa-apa lagi tanggungan dan juga telah memiliki sebuah rumah di pinggiran kota Bandung, ia pensiun dari aktivitasnya. Saya dan istri saya akhir setiap bulan selalu kesempatan untuk pulang mertua serta membawa uang ala kadarnya hanya untuk menambah biaya hidup sehari-hari. Tapi pada hari itu, Sabtu, entah bagaimana istri saya tidak merasa baik dan mengatakan kepada saya untuk pergi sendiri. Aku membawa sepeda saya ke selatan dari Kota Bandung sampai satu jam kemudian aku sampai di rumah yang sederhana tapi kokoh itu. Rumah itu kosong, tapi pintu terbuka lebar. Seperti biasa aku merebahkan tubuhku di bangku bangku bambu di ruang tamu untuk melepas lelah. Soon-undang datang. "Uh, Sis Willy, sudah lama Dik?" Dia menyapa saya adalah basa-kesannya tapi benar-benar tidak. "Nah, sekarang sih," kataku ucapan selamat datang. "Di mana Ida?", Tanyanya. "Sekali lagi sakit, Ma. Katanya demam tuh, aku bilang istirahat" jawabku. "Oh, wah, wah, wah, jangan sampai tanda-tanda tuh ingin memiliki anak," kata mertuaku senang.

Memang, dia putus asa untuk cucu dari pernikahan kami. "Mudah-mudahan, Ma" "Nah, sudah makan belum. Mama punya sama saus sayur asam penggunaan pasta ikan asin, Anda tidak ingin?", Mertuaku menawarkan makan. "Ya, aku benar-benar tuh" Bergegas aku ke ruang makan dan melihat hidangan ia menawarkan masih belum tersentuh siapa pun. Sambil makan kami berbicara lagi. "Nony mana Ma?" Saya bertanya. "Dia mengatakan piknik di apartemen seorang teman dari kota, kemarin keberangkatan sore" "Oh," jawabnya. Memang, mertua hanya tinggal berdua dengan Nony untuk Cheny lebih memilih kost di tempat kerja. Kami berbicara tentang semua jenis percakapan nyerempet sampai anarkis. "Kau anak sudah hampir dua tahun benar-benar tidak punya, juga?" "Ya tidak tahu tuh, Ma" "Apa kamunya yang tidak bisa? Kalo di sini Mama tidak bisa mengajar" "Ajarkan apa, Ma?" "Mama buatin herbal biarkan subur" "Ah bisa aja ya Mama" Chat sengaja kupancing dan kuarahkan ke seksual masalah. "Ma saya mungkin nanya tidak?" "Apa?" "Bukankah Pa'e sering dibuatin herbal?"

"Ya, ketika aku sakit menulis" "Untuk yang lain?" "Yang lain tuh apa?" "Orang kuat Herbal misalnya?" "Ha, ha, ha, Anda seperti kursus. Mari kita tidak menggunakan begituan juga man-in-hukum Anda sudah kuat, benar-benar. Bahkan sebelum kematiannya ia menambahkan satu lagi" "Jadi tidak pernah sama sekali, Ma?" "Tidak pernah sich kadang-kadang. itu juga dia yang minta "" Terus ibunya bagaimana? "" Ya lah tokcer, ha, ha, ha, eh, kamu kenapa menanyakannya sih? "" Dan sekarang Mama lagi ketika Anda menginginkan sesuatu ? "wajahnya sedikit memerah tapi dia menjawab juga," Ya, banyak-Banyakin hanya pekerjaan, ya masak, piring nyuci, menyapu halaman, kemudian juga lupa, terus sesudahnya, lelah, ya tidur "" Oh ", jawabku . "Anda telah nanyanya ngawur, menulis" "Dia, dia, dia .." "Sudah ada sore mandi" "Ya Ma" Sementara aku mandi, aku merasa penisku yang berdiri tegak. Kukocok ayam sambil membayangkan tubuh-in-hukum. Mertuaku masih cukup cepat meskipun mereka telah memiliki tiga anak. Menurut istri saya, dia rajin scrub kulit coklat disertai dengan minuman herbal secara teratur. Perutnya masih cukup ramping walaupun sudah ada lipatan kecil lemak. payudara 36B berukuran masih ketat karena ramuan dari luar dengan bumbu serta potongan pantatnya. Satu hal lagi, dia tidak pernah mengenakan daster, atau baju apapun.

pakaian sehari-hari adalah kain kebaya dengan strapless naik sampai ke dadanya. "Dik Yanto, ketika Anda mendapatkan air diisi lagi ya?" "Ya, Ma." Setelah mandi air kupompa luar kamar mandi sementara mertuaku berjongkok mencuci piring di pompa tangan mandi. Saya membawa ember telah diisi ke kamar mandi untuk diisi ke dalam bak mandi, dan seterusnya sampai penuh. Aku melihat sementara memompa payudara belahan dada-undang untuk membuat penisku berdiri lagi sampai ia menyadari handuk terpisah. "Nah, semalem belum 'makan' ya?", Jadi kata sinis hukum. "Ya ya, Ma" "Mengapa kau melakukan hal liat nenek langsung hanya berdiri?" "Mama Abis gemuk pula", jawab saya asal-asalan. "Hush, apa yang gemuk" "Itu payudara belahan dada, jadi saya menjadi seperti ini" "Oh ini, mau lihat?" "Ya, seperti, seperti Ma" Sejenak dia berbalik untuk terus membuka kembennya perut yang cukup ramping itu terbuka. "Di sini, menyaksikan", katanya, aku meraih payudaranya. "Eh dia hanya tangguh?" "Ya, pegang tanah liat yang sama, Ma" Aku diperas diperas payudaranya sampai napas napasnya. "Sudah To, sudah" Tapi aku terus meremasnya dengan antusias. "Hal ini untuk, aku akan mandi" "Bener ingin mandi apa lagi?" "Mama Bener mengambil mandi" "Nanti lagi ya?" Mertuaku tidak menjawab, hanya pergi ke kamar mandi. Aku sedang menunggu di kamarnya sampai beberapa menit kemudian mertua telah pergi ke kamarnya lagi. Tubuhnya dibungkus kain saja. Yang mengejutkan saya adalah mertua hanya membuka kain di depan saya masih berbaring. Aku melihat payudaranya yang cukup sekal didampingi perut ramping dan bokong montok. Yang membuat saya tidak tahan adalah banci bagian berbulu sangat padat segitiga. Perlahan aku mendekatinya dengan pelukan hangat dan ciuman yang cukup kuat di bibirnya, mertua hanya pasrah saja. Saya juga melewati langkah-langkah yang telah dilakukan di luar. Kali ini aku berjongkok dan saya bermain vaginanya dengan mulut saya sementara tangan saya naik dan turun secara bergantian. Aku diperas diperas pantatnya potongan padat itu dengan tangan kanan dan tangan kiri twist-twist yang dengan sesekali mencubit putingnya dan meremas dadanya. Jadi pergi bergantian dengan tangan kanan dan kiri. Pada saat yang sama saya merokok-mengisap bibir vagina dengan gemas. "Aghh, aghh, aghh", suara itu keluar dari mulut-hukum disertai dengan suara mulutku terus menghisap banjir vagina. Dan seterusnya sampai,

"Udahh, aghh, masukkan baru saja Anda, To". Aku berbaring mertuaku tidur dengan bokong dan pinggul berada di tepi tempat tidur, aku mengangkat kaki saya ke bahu saya. Aku berlutut di lantai dengan penisku tepat di pintu vagina. Kumain-main kepala pertama dari penisku di clitorisnya dengan berputar-putar dan kemudian baru aku menjatuhkan ke dalam vagina. Perlahan tapi pasti aku meletakkan penisku ke dalam lubang vaginanya. "Eghh .., hush, perlahan-lahan, To" "Mama kayak perawan menulis" Setiap impuls tampaknya memiliki benjolan di penis saya di dalam vaginanya. "Eghh, nyeri Aduh, To" "Huh, sakit?" Mendorong kugoyang juga hip-gemetar kiri dan kanan untuk memperbaiki vagina lorong agak lebar. Setiap dorongan juga menarik penisku keluar dan mendorongnya sedikit lebih sehingga bagian itu agak sulit untuk menembus terbuka. Kemudian, sleb, sleb, sleb, dengan tiga mendorong penisku sudah masuk semua ke dalam rongga-hukum vagina. Aku diam sejenak sampai aku merasakan sengatan kecil seperti mengisap-mengisap lembut.

Ternyata mertuaku memiliki vagina yang dapat menyedot-mengisap penis. Mungkin karena herbal secara rutin minum sehingga dia bisa seperti ini. "Come To, menunggu apa?" Aku menarik dengan iringan napas mendesah, lalu dorong lagi untuk memberkati saya, memberkati, memberkati, penisku menempel dasar. Keluar juga suara gemercik vagina mertua. Kami juga keluar dari mulut suara-erangan dan erangan napas kita mewarnai suasana erotis. "Aghh, aghh, aghh, sst, ohh, aghh", sehingga deru nafas-undang. Aku tetap berkonsentrasi agar tidak memecat ayam pertama dan sukacita orgasme vagina, tetapi karena hukum dibuat-in-ini tidak bisa berdiri. Namun, dengan mengatur nafas aku bisa mengimbangi permainannya. Sudah hampir satu jam kami saling asyik masyuk sampai tanda-tanda akan terasa di orgasme kami. Saya melihat gerakan kejang perut-hukum dan juga menghadapi semakin terlihat gelisah dengan keringat dan matanya turun seperti lalat, kepala bergeser ke kiri dan ke kanan, tangannya berusaha meraih apa yang bisa diperas. Biasanya gejala bahwa wanita akan orgasme. Tak lama kemudian, "Aghh, Cepat Untuk, saya ingin nyampe ya" "Aku juga, aghh" "Iiihh, aghh, ehmm, aghh" jeritan Jadi sedikit mulut-hukum disertai dengan deru napas mengindikasikan dia merasakan orgasme. "Ughh, ughh, ughh", sehingga sisa napasnya untuk menikmati sensasi orgasme tak tertandingi. Saya juga merasakan hal yang sama dengan kejang seluruh saya dan menyemprotkan sperma, berapa kali kusemprotkan kenikmatan penuh cairan ke dalam undang-undang rahim. Tubuh kita langsung lemas. Aku berbaring telungkup di mertuaku hidup dengan kondisi penis yang masih bersarang di vaginanya. Segera peniskupun layu dan memisahkan diri dari vagina yang nikmat itu. "Kau hebat juga, To" "Ya dong, Ma" "Jangan panggil Mom lagi" "Siapa itu?" "Heny aja" "Ya Hen, ughh bagaimana bagus tidak?" "Ini penyewa yang baik, Anda tahu" Eye mertua segera mengkilap dan tertutup kemudian tertidur. Aku keluar dari tubuhnya dan juga merasa mengantuk sampai aku tertidur. Ada kami tidur sampai aku bangun dan mertuaku masih di sampingku, memelukku. Tubuh kita telanjang ketika itu. Tiba-tiba, "Ehmm, dia, dia, bagaimana Anda tidak puas?" "Ya Hen, saya sangat puas. Saya sudah ingin seperti ini dengan Anda untuk waktu yang lama tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan dan kamunya takut marah" "HHH", mertua napas lega. "Nah, sekarang," kataku. "Tapi To, aku masih serr-serran tahu", begitu katanya, mencengkeram penisku yang telah agak terasa lemas seperti ingin bangun lagi. Sepertinya mertuaku harus tahu bagaimana untuk membangun kembali penis melalui tekanan pada vena di tempat lain. Aku segera mencium payudaranya dan tangan menggeledah melalui vagina. Mertuaku mulai cepat berbalik dan aku berada di posisi siap di atas dia. Dengan satu dorongan, penisku sudah terjebak dalam vagina yang telah ceroboh. Mertuaku berkata, "To, saya di yah atas?" "Hanya apa itu?" "Bisa dong, sudah nontonn Film Cheny", rupanya mertua sering menonton film dengan VCD biru, Cheny. Jadi jangan heran jika ia memahami posisi bercinta. Dengan berguling posisinya sekarang berubah menjadi di atas saya.

Mertuaku mencoba duduk dengan kaki dilipat dan mulai bergoyang-goyang dan memutar ditingkahi dengan suara vaginanya untuk menambah gairah untuk memacu goyang. Aku hanya memegang buah dari bawah nya pantat dan clit-tangan satu bermain yang tepat di perut saya. Hanya sekitar setengah jam mertuaku mulai menunjukkan gejala seperti orgasme. Dalam hitungan detik dia merasakan orgasme. Tubuhnya lemas dan berbaring di dadaku. Tapi aku belum, hingga secepat kilat aku berbalik dan berada di atas itu dan segera bergoyang untuk mengejar orgasmeku. "Aduhh udahh To, aughh, gelii, To ..", hingga beberapa detik kemudian aku merasa begitu baik tembakan kedua orgasmeku dengan sperma yang masih cukup kuat. Kami kemudian berbicara hal-hal yang porno dan erotis sampai kita berbalik dan berhubungan seks lagi, dan seterusnya sampai subuh. Tidak peduli berapa kali kita lakukan sebenarnya adalah aib bagi keluarga kami sendiri. Ini sekarang mertua sudah memiliki cucu dan menjaga jarak dengan saya. Dia merasa hal yang kita lakukan itu adalah aib dan tidak layak, dan ketika saya sebutkan tentang hal itu ia tampak sedikit marah dan tidak suka. Dia telah baik untuk nenek saya.

author